Jejaring Setan


Ikhwah fillah, kenalilah jejaring setan. Karena, kita ingin semuanya selamat dunia akhirat. Jejaring atau perangkap setan adalah setiap perbuatan maksiat, perbuatan syahwat yang diharamkan, ragu dalam tauhid, dan saling bekerja sama dalam berbuat buruk.

Termasuk jejaring setan adalah upaya apa pun yang bisa mengantarkan seseorang terjerumus ke dalam perbuatan haram, seperti melihat foto dan tayangan porno, bergunjing (gibah), bersumpah palsu, mengumbar umpatan serapah, dan lain sebagainya.

Perbuatan-perbuatan berikut bahkan bukan hanya menjadi jejaring setan, melainkan juga menjadikan setan berpesta pora. Pertama, terjadinya perceraian rumah tangga. Iblis sebagai pimpinan para setan selalu memuji semua keberhasilan para setan, tetapi iblis akan membanggakan kelompok setan yang berhasil menceraikan suami istri, "Setan menggoda untuk menceraikan suami dengan istrinya,” (QS 2:102).

Kedua, durhaka kepada orang tua. Sekalinya seorang anak menyakiti hati orang tuanya, baik dengan ucapannya, terlebih dengan tingkah lakunya, menjadikan setan senang luar biasa bahkan berpesta pora dengan sesama setan lainnya.

Ketiga, perkelahian sampai membunuh atau terbunuh, “Pembunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk neraka,” sebut Nabi SAW. Keempat, mencandu khamar dan narkoba (QS 5:90). Kelima, menenggelamkan diri dalam kubangan dosa zina dan perbuatan apa pun yang mendekatinya. Keenam, ketagihan duit haram, seperti penipu, koruptor, perampok, rentenir, dan sebagainya. Ketujuh, angkuh dan sombong dibarengi dengan sifat dengki, pemarah, dan dendam kesumat (QS 31:18).

Kedelapan, menjadi dukun dan pengikut setianya. Setan girang luar biasa jika ada orang yang mengajak teman atau saudaranya untuk memercayai, mendatangi, dan meminta jampi-jampi dukun. Kesembilan, sebagai jejaring yang memuncakkan prosesi pesta poranya setan, yaitu manusia mengakhiri hidupnya dalam keadaan maksiat dan mati dalam keadaan kafir kepada Allah.

 "Sesungguhnya, orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka dilaknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya" (QS 2:161). Mengapa jejaring setan terus ditebar, karena sumpahnya di hadapan Allah, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian, saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf : 16-17).

Dengan demikian, jejaring itu akan terus ada dan tidak akan mungkin hilang. Bahkan, semakin variatif dan kreatif. Hal yang bisa ikhwah lakukan adalah bagaimana bisa menyiasati jangan sampai terjaring dan akhirnya terjerumus. Semoga Allah beri kekuatan kepada kita untuk kuat menghadapi tipu muslihat syetan dan seluruh sekutunya. Amin


(sumber:Republika Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham)

Da'wah : Rasulullah SAW dan Anak Yatim

Diriwayatkan dari Sahl, Rasulullah bersabda : "Aku dan pemelihara anak yatim, di surga seperti ini. Lalu beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan di antara keduanya sedikit." (H.R. Al-Bukhari).

Pada suatu pagi Hari Raya Idul Fitri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti biasa setiap hari lebaran, mengunjungi rumah demi rumah untuk mendoakan kaum Muslim agar merasa bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.

Rasulullah pun bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalau menangis tersedu-sedu. Rasul kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : "Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?"

Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : "Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bertarung bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?"

Setelah Rasulullah mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: "Anakku, hapuslah air matamu... Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu... Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? ... Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu... dan Aisyah menjadi ibumu.... Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?"

Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya.

Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya.

Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagian yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangang Rasulullah yang lembut itu.

Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir oleh beliau. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.

Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya.

Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya: "Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?"

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab : "Akhirnya aku memiliki seorang ayah? Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya."

Menyantuni Anak Yatim
Yatim berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang kehilangan (kematian) ayahnya, bukan ibunya. Anak yatim wajib disantuni karena ia kehilangan ayah yang wajib menanggung nafkahnya. Namun demikian, orang yang kehilangan (kematian) ibunya tetap wajib disantuni sebagaimana halnya anak yatim. Apalagi kalau kehilangan (kematia) kedua orang tuanya sekaligus.

Adapun piatu adalah istilah dalam bahasa Indonesia untuk sebutan bagi anak yang kehilangan (kematian) ibunya. Sehingga anak yang kehilangan (kematian) ayah dan ibunya sering disebut dengan yatim piatu. Masa keyatiman seorang anak itu ada batasnya, yaitu ketika ia telah baligh dan tampak rusyd (kemandirian) pada dirinya. Firman Allah `azza wa jalla, "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya." (Q.S. An-Nisa' [4] : 6).

Secara terperinci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberi contoh bagaimana cara menyantuni anak yatim. Yang jelas, cara menyantuni anak yatim itu adalah dengan memuliakan, memperhatikan, memberi kasih sayang, memenuhi kebutuhan hidupnya (makan, minum, pakaian, tempat tinggal), pendidikannya, kesehatannya dan segala sesuatu yang diperlukannya agar menjadi anak yang shalih, mandiri dan berguna. Sehingga ia dapat bermanfaat bagi orang lain dan tidak teracuhkan.

Membelai Rambut Anak Yatim
Apakah ada tuntunannya memberi santunan dengan prosesi membelai-belai rambut anak yatim oleh jamaah secara bergiliran? Apakah dibenarkan yatim remaja putri dibelai-belai sedemikian rupa oleh jamaah laki-laki dari remaja hingga dewasa?

Tentang membelai rambut anak yatim, memang ada sebuah hadits sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang laki-laki yang mengadukan kekerasan hatinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda : "Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin." (H.R. Ahmda dengan perawi shahih).

Menurut hadits ini, mengusap kepala anak yatim dan memberi makan orang miskin mempunyai pengaruh yang sangat baik pada diri seseorang, yaitu dapat melembutkan hati yang keras. Dalam prakteknya, kedua hal tersebut dilakukan dengan penuh keinsyafan hati secara natural (tidak dibuat-buat) atau dipaksa-paksakan). Mengusap kepala anak yatim adalah simbol atau cara menunjukkan empati dan kasih sayang, bukan ritual yang harus dilakukan. Sudah barang tentu yang diusap adalah kepala anak yatim yang belum dewasa. Adapun orang laki-laki membelai rambut anak yatim putri yang sudah menginjak usia remaja adalah dilarang karena menimbulkan fitnah.

Demikianlah, beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menyantuni anak yatim. Semoga kita dapat mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu santun dan mengasihi anak yatim. Wallahu a'lam bish-shawab.

(Sumber: Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Edisi No.44 Thn.XLI, 7 Muharram 1436 H/ 31 Oktober 2014 M Oleh Dewan Redaksi)

Hakikat Masjid



Masjid dari akar kata sajada-yasjudu berati sujud, lalu membentuk kata masjid yang berarti tempat sujud. Segala sesuatu yang ditempati sujud untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dapat disebut masjid.

Nabi Muhammad SAQ pernah mengatakan, al-ardhu masjid (bumi adalah masjid). Dengan demikian, bumi ini bersih dan dapat digunakan untuk bersujud. Seorang petani shalat dan sujud di atas pematang sawah, seorang nelayan shalat dan sujud di atas pasir pantai, seorang tukang kebun shalat dan sujud di atas batu menghadap kiblat sama dengan orang yang sujud di atas sajadah di rumah atau di masjid.
 
Masjid dalam perspektif Alquran tidak selamanya berarti bangunan khusus untuk beribadah bagi umat Islam. Peristiwa Isra Mi'raj yang melibatkan dua kata masjid, sebagaimana diebutkan di dalam QS al-Isra’ [17]:1, yaitu Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid al-Aqsha di Palestina, belum memiliki bangunan khusus seperti sekarang.

Masjid al-Haram lebih merupakan pelataran Ka’bah dan Masjid al-Aqsha adalah sebongkah batu besar yang biasa disebut “batu gantung” karena dimitoskan batu itu ingin menyertai Nabi Muhammad SAW ke Sidratil Muntaha. Kini, batu besar itu berada di dalam bangunan masjid di kompleks al-Aqsha.
   
Dalam perspektif ahli tarekat, badan manusia juga bisa disebut pakaian, tempat tinggal, sekaligus sebagai tempat sujud (masjid) dimensi-dimensi batin manusia, seperti kalbu, jiwa, ‘aql, dan ruh manusia.

Bahkan, dalam perspektif ilmu hakikat, badan biasa disebut "bait Allah" atau Divine House (Rumah Tuhan) karena di dalam badan manusia terdapat roh yang dianggap sebagai unsur suci dari Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam ayat Alquran, Fa idza sawwaituhu wa nafakkhtu fihi min ruhi (Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku (QS al-Hujurat [15]:29).

Badan sebagai "bait Allah" (baca: Baitullah) merupakan nama lain dari Ka’bah atau kiblat umat Islam di dalam melaksanakan sejumlah ibadah mahdhah, seperti shalat. Ka’bah juga sekaligus sebagai objek tawajjuh, sebagaimana selalu kita ikrarkan di dalam doa iftitah, Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamin (Sesungguhnya shalatku, urusanku, dan hidupku hanya untuk Allah Tuhan semesta Alam).

Badan manusia dianggap sebagai Baitullah atau Ka’bah secara maknawi, dianalogikan dengan ‘Arasy, yaitu singgasana Tuhan, Baitul Ma’mur, yaitu miniatur ‘Arasy yang khusus dibangun Tuhan untuk para malaikat setelah menyadari kelancangannya mempertanyakan kebijakan Tuhan dan Ka’bah miniatur Baitul Ma’mur yang dibangun para malaikat untuk Adam dan istrinya setelah melanggar larangan Tuhan di Surga.

Badan sebagai pakaian, tempat tinggal, dan masjid, apalagi dianalogikan sebagai Baitullah atau Ka’bah, sudah barang tentu harus bersih dari noda dan dosa. Pembersihan badan bukan hanya membersihkannya dari kotoran fisik dengan cara berwudhu, tayamum, atau mandi dengan menggunakan air, sabun, atau sampo, tapi juga harus dipelihara kebersihannya dari noda, seperti juga terhadap dosa dan kemaksiatan.

Kalangan ulama tarikat mendasarkan pendapatnya dengan mengutip ayat Alquran, Wa tsiyabaka fathahhir, wa al-rujzah fahjur (Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah perbuatan dosa) (QS al-Muddatsir [74]:3-4).

Yang dimaksud dengan pakaian di sini bukan hanya baju yang menempel di badan, tetapi badan yang merupakan pakaian atau selimut dimensi batin. Cara pembersihannya tentu bukan hanya membersihkan kotoran fisik, tetapi juga dengan kotoran nonfisik. Kotoran nonfisik, seperti dosa-dosa kemusyrikan.

Musyrik dalam perspektif fikih menyembah Tuhan selain Allah SWT. Bisa diartikan memberikan loyalitas kepada objek tertentu selain hanya kepada Allah SWT, seperti menyembah berhala atau benda-benda tertentu yang diyakini mampu menentukan nasib seseorang.

Dalam pandangan Alquran, sebagaimana ditafsirkan kalangan ahli tarikat, kemusyrikan adalah najis, sebagaimana disebutkan di dalam ayat Alquran, Ya ayyuhalladzina amanu innamal musyrikina najasun, fala yaqrabu al-masjid al-haram….  (Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam. (QS at-Taubah [9]:28).

Selanjutnya, yang dimaksud musyrik ialah memberikan loyalitas kepada sesuatu selain Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam ayat Alquran, "Pernahkah kalian melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (bahwa ia tidak layak lagi memperoleh petunjuk) serta Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan di atas penglihatannya? Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mau ingat?" (QS al-Jatsiyah [45]:23).

Dalam perspektif ahli hakikat, syirik diartikan menyaksikan sesuatu selain Allah. Jika seseorang menyaksikan sesuatu tanpa bisa menghadirkan (kualitas) Tuhan maka bisa disebut musyrik. Dasarnya ialah ayat Allah SWT, Fa ainama tuwallu fa tsamma wajh Allah (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS al-Baqarah [2]:115).

Jika seseorang melihat sebatang pohon hanya sebatang pohon semata, tanpa mampu menghadirkan (kualitas) Tuhan di dalam pohon itu maka itu ada masalah kemusyrikan (lihat artikel terdahulu tentang Konsep Tauhid).

Dari sinilah muncul istilah junub secara harfiah berarti jauh atau berjarak dengan Allah SWT karena masih seseorang masih merasakan adanya sumber kepuasan selain hanya Allah SWT, yakni ia memperoleh kepuasan dari pasangan biologisnya. Seorang hamba sejati menghanyutkan perhatian (fana’) hanya kepada Allah SWT, tetapi orang yang berhubungan suami istri fana’ kepada nafsu melalui pasangannya.

Seorang yang sedang janabah harus mandi junub dan tidak boleh ada sehelai rambut pun yang tidak tercuci. Ini sebagai ilustrasi tidak boleh ada sehelai rambut pun yang menjadi objek kepuasan selain Allah SWT.

Di sinilah arti penting thaharah dalam Islam. Cara penyucian diri manusia bergantung jenis kotoran yang melekat pada dirinya. Jika kotorannya berupa fisik maka penyuciannya dengan air biasa. Cara pembersihannya ialah dengan cara mandi, berwudhu, atau tayamum dengan tanah.

Jika jenis kotorannya berupa dosa atau maksiat maka penyuciannya dengan sesuatu yang  nonfisik, yang biasa disebut dengan air hakikat (mahiyah). Yang dimaksud air hakikat ialah ilmu pengetahuan, sebagaimana sabda Nabi, al-ma`u ‘ilm Allah (air adalah ilmu Allah).

Ilmu Allah masuk di dalam al-‘alam al-amr, tidak masuk dalam al-‘alam al-khalq. Dengan demikian, seseorang yang mendapat anugerah makrifah Allah bukan saja mendapatkan ilmu yang amat penting, melainkan juga membersihkan dirinya dari dosa. Perbuatan dosa anak manusia harus dibersihkan dengan air atau tanah dan disucikan dengan air hakikat (makrifat Allah).
   
Hakikat masjid bukan hanya masjid atau mushalla dalam pandangan ilmu tarikat dan ilmu hakikat, tetapi keseluruhan alam (al-khalq) ini adalah masjid karena bisa merupakan lokus untuk sujud, beribadah, dan ber-tawajjuh kepada Allah SWT. Badan sebagai penyimpan atau tempat tinggal berbagai kotoran, harus betul-betul dibersihkan, disucikan, dan dihayati. Inilah makna hadis yang sering dikutip di dalam kitab tasawuf, Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu (Barangsiapa sudah mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya). Allahu A’lam. 


(sumber:Republika Oleh Nasaruddin Umar)

Revolusi Mental Sejati


Hijrah tak hanya bermakna berpindah secara fisik (jasadiyah), tetapi lebih penting dari itu, yakni berpindah secara mental (hijrah qalbiyah). Baik dalam arti fisik maupun mental, hijrah pada intinya mengandung makna perubahan, yaitu berpindah dan bergerak menuju kemuliaan dan keadaban.

Perubahan sebagai inti hijrah sungguh penting, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, perubahan merupakan watak dari alam ini atau dengan perkataan lain, perubahan adalah sunatullah. Kedua, perubahan merupakan tanda dari kehidupan (min `alamat al-hayah). Kalau sesuatu tidak bergerak dan tidak bergeser dari posisinya yang semula, ia sama dengan mati atau adanya, sama dengan tidak adanya (wu juduhu ka'adamih).

Ketiga, perubahan selalu membawa harapan pada keadaan yang lebih baik. Pergantian hari, bulan, dan tahun baru menimbulkan harapan baru. Begitu juga dengan pergantian pimpinan baru. Seluruh rakyat dan bangsa pasti berharap semoga kehidupan membaik, lebih makmur, dan sejahtera.

Dakwah Nabi SAW dan hijrah yang dilakukannya, sesungguhnya merupakan bagian dari proses perubahan ini, perubahan mental: dari kufur kepada iman, dari jahliah kepada Islam. Sebagaimana firman Allah, "Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka." (QS Ibrahim [14]: 1).

Rauf Syalabi, dalam Usus al-Takwin al-Mujatama' al-Muslim, mencatat beberapa perubahan mental dan kultural yang secara fundamental berhasil dilakukan Nabi SAW sebagai berikut.

Pertama, Nabi SAW mengubah bangsa Arab dari budaya pedang (kekerasan) kepada budaya perdamaian (min al-sayf ila al-musalamah). Pedang merupakan simbol dari kekerasan yang menjadi watak kehidupan bangsa Arab pra Islam. Orang Madinah dari suku al-Aus dan al-Khazraj terus bertikai dan berperang satu dengan yang lain tanpa kesudahan, sampai datang Islam (Nabi Muhammad SAW) mendamaikan mereka. (Baca QS Ali Imran [3]: 103).

Kedua, Nabi SAW mengubah cara penyelesaian masalah dengan kekuatan pada penyelesaian dengan hukum atau undang- undang (min al-quwwah ila al-qanun). Seperti diketahui, pada masa jahiliah, semua persoalan diselesaikan dengan otot alias adu kuat (hukum rimba). Pasa masa Islam, setiap persoalan dibawa ke ranah hukum, diputuskan sesuai syariat dan hukum-hukum Allah.

Ketiga, Nabi SAW mengubah budaya paganisme, syirik (politeisme) kepada paham Ketuhanan Yang Maha Esa (min al-watsaniyah ila al-tauhid). Bangsa Arab pra Islam merupakan penyembah berhala. Di sekitar Ka'bah saja pada waktu itu terdapat tak kurang dari 200-an patung, besar dan kecil. Belum lagi di setiap rumah juga ada berhala yang mereka sembah. Nabi SAW berhasil mengubah mereka menjadi muwahhid sejati, yaitu orang-orang yang menyembah hanya kepada Allah SWT semata.

Nabi SAW juga berhasil membangun keadilan dan kesetaraan gender, juga mengajarkan kepada mereka adanya tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial, bukan tanggung jawab kesukuan.
Apa yang dilakukan Nabi SAW di atas dapat disebut sebagai revolusi mental dan kultural dalam arti yang sebenarnya.

Revolusi yang dilakukan Nabi bersifat transformasional bukan transaksional dan universal bu - kan partikular. Wallahu a\'lam.

(sumber:Republika, edisi Kamis, 30 Oktober 2014 Hal. 21 Oleh A Ilyas Ismail)

Keikhlasan Utsman


Kedermawanan Utsman bin Affan RA sungguh luar biasa. Setiap kali peperangan melawan kaum kafir, dia kerap menjadi penyandang dana. Saat Perang Tabuk (630 M atau 9 H) tengah dipersiapkan, misalnya, dialah yang memikul keperluan logistiknya.

Awalnya, tidak sedikit kaum Muslimin yang ketar-ketir mengingat jumlah prajuritnya sangat sedikit. Di sisi lain, jumlah prajurit musuh sangat banyak. Selain itu, persediaan logistik mereka sangat mumpuni. Ditambah lagi, mereka berperang di negerinya sendiri.

Kekhawatiran kaum Muslimin masuk akal karena mereka harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Selain itu, logistik dan sarana transportasi mereka terbatas. Dengan begitu, mereka harus memutar otak untuk mencari jalan keluarnya. Atas dasar tersebut, Rasulullah SAW sempat menolak tekad kaum Muslim untuk pergi ke Tabuk. Maka, kaum Muslimin pun kecewa berat. Namun, beberapa waktu kemudian Rasulullah naik ke atas mimbar. 

Lewat mimbar, Rasulullah memotivasi kaum Muslimin untuk mengerahkan segala kemampuan (berupa harta dan jiwanya) dalam rangka mendapatkan ampunan dan rezeki yang besar sebagaimana dijanjikan Allah (QS al-Anfal [8] : 74). Seruan Rasulullah membuat suasana sekonyong-konyong menjadi senyap. Tidak seorang pun berani bersuara. Di tengah keheningan, Utsman berdiri di hadapan beliau seraya berkata, "Aku siap memberikan seratus unta plus logistiknya."

Kemudian, Rasulullah turun satu anak tangga dari mimbarnya. Lalu, beliau kembali menyeru kaum Muslimin untuk mengerahkan harta yang mereka miliki. Namun, tak ada seorang pun yang merespons seruan itu. Utsman pun berdiri untuk kedua kalinya seraya berkata, "Aku siap memberikan seratus unta lagi plus logistiknya, wahai Rasulullah." Mendengar ucapan Utsman untuk kedua kalinya itu wajah Rasulullah berseri. 

Kemudian, Rasulullah turun satu anak tangga lagi dari mimbarnya. Lalu, beliau kembali menyeru kaum Muslim untuk mengerahkan harta yang mereka miliki. Namun, lagi-lagi mereka bungkam seribu bahasa.

Utsman pun berdiri untuk ketiga kalinya seraya berkata, "Aku siap memberikan seratus unta lagi plus logistiknya, wahai Rasulullah." Kini, Utsman telah memberikan tiga ratus unta plus logistiknya untuk persiapan Perang Tabuk. Atas pernyataan tersebut Rasulullah mengarahkan tangannya ke arah Utsman, pertanda beliau senang dengan kedermawanannya. Lalu beliau bertutur, "Utsman sejak hari ini tidak akan kesulitan."

Keikhlasan Utsman untuk menginfakkan hartanya pada jalan Allah didasarkan kesadaran eksistensial dan kesadaran sosial/kemanusiaan. Maka, ketika dua kesadaran tersebut sudah saling melengkapi, sudah tidak perlu lagi khawatir akan kekurangan rezeki. Wallahu a'lam. 

(sumber:Republika, edisi Rabu, 28 Oktober 2014 Hal. 25 Oleh Mahmud Yunus)