Nikmat Hujan


Alhamdulillah, sekarang sudah memasuki musim penghujan. Di mana-mana hujan turun. Ada yang lebat, sedang, tapi ada pula yang ringan. Ketika hujan turun, beragam cara kita menyikapinya. Ada yang senang, gembira, dan penuh sukacita karena sudah lama hujan tak turun. Tapi banyak pula yang kesal, marah, jengkel, dan kecewa karena merasa dirugikan akibat hujan tersebut.

Bagi yang senang dengan turunnya hujan, di antaranya petani. Sebab, hujan akan menyuburkan lahannya yang tandus atau gersang. Hujan membuat tanamannya menjadi subur sehingga penghasilannya pun akan bertambah. 

Tetapi hujan yang turun secara terus-menerus, terkadang juga menjadi "bencana" bagi petani. Hujan yang terus-menerus itu bisa menyebabkan tanamannya rusak.
Apalagi kalau sampai terjadi banjir, petani kerap mengeluh karena tanamannya menjadi puso atau gagal panen.

Seperti halnya petani yang mengeluh karena hujan yang turun secara terus-menerus, mayoritas umat manusia pun menyikapinya dengan cara yang sama. Kesal, jengkel, marah, dan mengeluh karena hujan telah merugikannya.

Tak jarang, umpatan dan cacian telontar dari mulutnya. Mereka kecewa karena hujan merugikan dirinya. Para ibu pun tak kalah mengeluhnya. Jemuran tak kering, mau pergi ke mana-mana tidak bisa; tidak bisa pergi ke pasar dan sebagainya. Tukang ojek mengeluh karena hujan menyebabkan pendapatannya mungkin akan menurun. Ia tak bisa pergi mengantar penumpang sebab penumpang lebih memilih naik angkutan umum.

Namun, di balik orang-orang yang mengeluh itu, banyak pula yang mensyukurinya. Sopir angkutan umum bersyukur dengan hujan yang turun karena calon penumpang tukang ojek akan berpindah ke angkutan umum. Tukang jual payung bersyukur karena jualan payungnya akan laris. Tukang jual jas hujan beruntung karena penjualan jas hujan akan meningkat.

Karena itu, tak semua orang merugi dengan datangnya hujan. Tak semua orang sengsara dengan hujan. Sebab, ada pihak lain yang mendapatkan manfaat dari hujan itu.

Lalu, bagaimanakah sikap kita sebagai seorang Muslim tatkala hujan turun? Sudah selayaknya kita bersyukur atas nikmat dan karunia Allah berupa hujan itu. Sebab, pada hakikatnya tak ada satu pun ciptaan Allah yang sia-sia atau tak bermanfaat.

"Yaitu, orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dengan berdiri, duduk, atau sambil berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, `Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." (QS Ali Imran [3]: 191).

Rasulullah SAW mengajarkan kepada umat Islam agar selalu berdoa saat hujan turun. "Allahumma shabiyyan naafi'an. Ya Allah, jadikanlah hujan ini membawa manfaat."

"Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia-lah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS al-Baqarah [2]: 22). 


(sumber:Republika, edisi Selasa, 25 November 2014 Hal. 21 Oleh Syahruddin El-Fikri)

Haji Mengubah Tujuan Hidup Dwiki


Serahkanlah hidup dan matimu
Serahkan pada Allah semata
Serahkan duka gembiramu
Agar damai senantiasa hatimu

Lagu berjudul 'Dengan Menyebut Nama Allah' meluncur sahdu dari lantunan penyanyi Novia Kolopaking. Terasa sejuk dan teduh. Mengagungkan kebesaran Allah. Musik dan liriknya menyentuh sanubari yang terdalam. Mencuat tahun 1991, lagu ini diciptakan oleh Muhammad Dwiki Dharmawan dan Adjie, sutradara Teater Tetas. Dwiki mengaku tidak menduga karyanya dapat diterima luas oleh masyarakat. ''Tentu saja ada perasaan bangga,'' kata Dwiki.

Proses penciptaan lagu tersebut tidak terlalu lama. Ketika itu Dwiki tengah terlibat persiapan pagelaran operet Idul Adha dari sebuah stasiun televisi swasta. Pengarah acaranya lantas minta dibuatkan lagu khusus bertema agama. Dwiki merasa tertantang. ''Saya ingin membuat lagu yang menguraikan kebesaran Allah dari kata Basmallah dan dinyanyikan secara pop,'' tutur dia.

Kendati sudah seringkali membuat dan mengaransemen lagu, tapi untuk yang satu ini dia merasa ada getaran berbeda. Hidayah Allah datang seketika. Sewaktu mulai mencipta, jari jemarinya spontan bergerak gemulai di atas tuts piano memunculkan irama lembut. ''Pokoknya mengalir begitu saja, dan nggak bisa diuraikan dengan kata-kata,'' kenang Dwiki.

Keindahan irama dan lirik lagu Dengan Menyebut Nama Allah tetap abadi hingga kini. Banyak artis melantunkan kembali dengan beragam versi. Akan tetapi bagi Dwiki, kenangan ketika pertama mencipta lagu ini tidak bisa dia lupakan. Itu merupakan kali pertama dia berkesempatan menggarap lagu religius sekaligus memperdengarkannya.

Lebih jauh, Dwiki mengatakan ketertarikannya pada lagu-lagu religius sebenarnya sudah sejak kecil. Pada saat berusia taman kanak-kanak, dia telah terinspirasi lagu-lagu anak yang bertemakan keindahan alam, semisal Bintang Kecil. Dwiki kecil langsung menangkap pesan kebesaran Allah dari lagu tersebut.

Alhamdulillah, Dwiki pun dikaruniai bakat di bidang musik. Tak heran hobinya memang bermain musik. Menginjak remaja, dia sempat belajar musik jazz bersama Elfa Secioria. Kemudian dari tahun 1982 Dwiki malang melintang di berbagai pentas dan pertunjukan musik di seputar Kota Bandung.

Karir profesionalnya sebagai pemusik dimulai tahun 1984 sewaktu membentuk grup band Krakatau. Di sinilah namanya mulai naik daun dan terkenal di seantero negeri. Bersama Krakatau, Dwiki acap tampil di pentas-pentas musik berskala internasional.

Mereka malang melintang di dunia musik selama 20 tahun lebih. Tidak banyak grup band sanggup bertahan sekian lama. Sikap saling menghargai dan kebersamaanlah yang membuat Krakatau tetap eksis dari libasan waktu. Barulah tahun 1991, seluruh personel band sepakat vakum sementara waktu dan kontemplasi. Waktu tersebut akhirnya digunakannya untuk mencari bentuk bermusik yang lain, dan itu ternyata sarat dengan nilai-nilai agama.

Tercatat Dwiki sempat berkolaborasi bersama pemusik tradisional dan orkestra. Semangatnya muncul lagi. Dengan memadukan musik jazz dan tradisional, Dwiki dan Krakatau kembali mentas. Namun batiniahnya baru tercerahkan usai menjalani ibadah haji. Segala pahit manis perjalanan rohani dia rasakan di Tanah Suci.

Diceritakan, satu hari menjelang keberangkatan, Dwiki justru harus konser orkestra di Prambanan. ''Konsentrasi saya buyar. Mestinya mempersiapkan diri untuk menuju Tanah Suci, eh ternyata masih ngurusin pekerjaan,'' katanya mengenang. Jadilah Dwiki berangkat menunaikan ibadah haji dengan rasa lelah di badan dan sedikit flu.

Selama perjalanan dia terus berdoa dan minta ampunan kepada Allah SWT, berharap tidak terjadi sesuatu apapun yang buruk di Tanah Suci nanti. Doanya dikabulkan. Bersama rombongan artis yang lain, Dwiki pertama kali mendarat di Madinah. Lantaran kurang istirahat, badannya tambah tidak karuan. Kendati begitu, rasa rindu untuk singgah ke Masjid Nabawi sudah memuncak. Dwiki memaksakan diri ikut.

Setiba di masjid tersebut, ayah satu putra ini minum air zam-zam yang ada di sana. Sehabis minum zam-zam, ''Tiba-tiba kondisi saya pulih seperti sedia kala. Flu mendadak hilang,'' ujarnya takjub. Hikmah lain adalah sewaktu rombongan haji menjalankan ibadah melempar jumrah di Mina. Ribuan jamaah menyesaki lokasi sempit sikitar Jumrah. Dwiki menyebut perjuangan untuk dapat melempar jumrah itu sangat berat. Sambil bersesak-sesak mereka terus bergerak ke depan.

Dari kecil Dwiki sangat sensitif dan alergi terhadap debu. Sedikit saja kena debu, hidungnya langsung pilek. Bisa dibayangkan betapa cemasnya Dwiki saat hendak melempar jumrah dengan kondisi medan yang berdebu. Namun, kekhawatirannya tidak terjadi. ''Penyakit alergi hidung itu nggak keluar sehingga ibadah melempar jumrah bisa terlaksana baik.''

Selain di Mina, Dwiki juga mengaku mendapat kesan yang tak akan terlupakan saat di Mekah. Rombongan haji ini berkesempatan bertemu seorang imam Masjidil Haram. Sayang Dwiki tidak turut serta karena sibuk mengurus paspor. Mereka minta kepada sang imam untuk didoakan. Sebagian mereka, khususnya yang namanya tidak ada nuansa Islamnya (nama Arab--Red), merasa rikuh memperkenalkan diri. Kendati demikian, Dwiki tetap menitipkan namanya untuk didoakan.

Selain mendoakan, sang imam ternyata juga memberikan tambahan nama Islam (Arab) kepada anggota rombongan. Rano Karno diberi nama Abdullah, Ahong (pemain sinetron Si Doel Anak Sekolah) mendapat nama Salman Al-Farisi, nama sahabat Nabi Muhammad SAW. Adapun Dwiki memperoleh tambahan nama Muhammad. ''Sekarang nama saya menjadi Muhammad Dwiki Dharmawan,'' ujarnya bangga. ''Nanti, saya akan tambahkan nama baru itu di KTP.''

Pengalaman batinnya selama di Tanah Suci, benar-benar membekas dalam hati Dwiki. Kini hari-harinya senantiasa diisi dengan manfaat dan menjauhi mudharat. Dia berusaha dekat kepada Allah agar terhindar dari segala yang berbau dosa.

Menurut Dwiki, berhaji mampu membuatnya menyelami makna hakiki kehidupan. Intinya harus ada keseimbangan dalam kehidupan spiritual dan duniawi. Hal tersebut penting untuk lebih memahami makna ketuhanan dan keberagamaan agar tidak terjebak pada jurang materi. Akhirnya dia berkesimpulan, dalam bermusik tidak harus selalu berorientasi bisnis, karena semua yang dimiliki, termasuk bakat bermusik, hanya titipan Allah SWT.

Bermusik, menurut Dwiki, juga perlu keseimbangan. Sebab pada dasarnya musik bisa membawa pesan moral. Minimal, urai suami penyanyi rock Ita Purnamasari ini, bermusik harus membawa kebaikan kepada diri sendiri.

Memaknai kehidupan dan membantu sesama kini telah menjadi bagian keseharian Dwiki. Sejak beberapa bulan lalu dia memiliki sekitar 20 anak asuh yang tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. ''Membantu anak asuh sudah kewajiban sesama umat. Apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya,'' ungkap Dwiki lagi.

Berbeda dengan yang lain, bagi Dwiki, upaya konkret membantu anak-anak jalanan tadi tidak semata pemberian materi. Lebih dari itu, dia mencoba membangun rasa percaya diri mereka yakni melalui kesempatan berkesenian. Mereka diharapkan dapat merasakan kesenian secara profesional. Dilatih musik dan juga teater. Jadi, bukan sekadar memberikan santunan tapi juga bekal di masa depan. Gagasan ini memperoleh sambutan dari teman sesama artis.

Niat Dwiki hanya satu, yakni agar anak-anak asuhnya mendapatkan wawasan baru terutama di bidang kesenian. ''Jangan menjadikan anak jalanan sebagai objek, namun bantulah dengan membangun rasa percaya diri mereka,'' ajak Dwiki.

Sebelumnya, dia telah banyak terlibat pada kegiatan sosial dan agama, antara lain dengan membantu acara Dompet Dhuafa Republika, mencari dana bantuan korban kerusuhan Ambon, dan masih banyak lagi. Namun, yang langsung menyentuh ke masyarakat memang baru kali ini. Dwiki sadar sewaktu memulai karier harus dari awal serta melalui proses yang panjang. Dan hikmah pengalamannya itu ingin dia tanamkan kepada anak asuhnya kini, bahwa kesuksesan tidak mungkin diraih tanpa kerja keras dan perjuangan.

(sumber:Republika)

Rahmat Bagi Seluruh Alam


Begitu singkat Allah merumuskan fungsi diutusnya Nabi Muhammad ke atas bumi: ''Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) kecuali hanya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.'' Lalu pertanyaan introspektif mengusik nurani kita. Kalau itu fungsi utama kerasulan Nabi Muhammad, lalu kita sebagai umatnya yang berkewajiban mentauladani beliau, apa tugas kita dihidupkan oleh Allah di atas bumi? Sudah tentu jawaban yang paling singkat adalah bagaimana usaha kita untuk menjadi rahmat bagi apa pun dan siapa pun, sebagaimana Nabi.

Kalau kita sebagai ayah, maka kita berusaha agar keberadaan kita itu menjadi rahmat minimal bagi anak dan istri. Kalau kita sebagai anak, bagaimana bisa menjadi rahmat minimal bagi orangtua dan teman-teman. Kalau kita sebagai pegawai, bagaimana menjadi rahmat bagi kantor, atasan dan teman-teman sekerja. Kalau kita sebagai petani, bagaimana menjadi rahmat bagi sawah dan tanaman kita sehingga tumbuh dan membuahkan hasil yang baik. Dan demikian seterusnya.

Ternyata fungsi ''menjadi rahmat'' dapat menjadi ukuran kualitas kemanusiaan kita. Semakin luas jangkauan rahmat keberadaan kita maka semakin luas pula nilai kemanusiaan kita. Seorang ahli hikmah membuat ukuran yang lebih riil untuk mengetahui kualitas rahmat keberadaan kita. ''Wahai anak keturunan Adam!'' katanya, ''Ibumu dulu melahirkan kamu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang sekitarmu tertawa bahagia dengan kehadiranmu. Maka kalau kamu mati kelak, matilah kamu dalam keadaan tersenyum, sementara orang-orang di sekitarmu menangis.''

Dari hikmah itu kita bisa mengetahui kadar kualitas kemanusiaan seseorang. Seberapa banyak orang yang menangisi dan ikut berduka cita atas kematian dan kepergian seseorang, maka sebanyak itu pula nilai orang itu. Bila yang menangisi hanyalah anak dan istrinya maka nilai rahmat keberadaannya hanyalah sebatas anak dan istrinya. Bila yang berduka cita seluruh dunia maka nilai kemanusiaannya seluruh dunia.

Dengan demikian, nilai kualitas keberadaan masing-masing manusia tidaklah sama. Sesuai dengan tingkat jangkauan keberadaannya menjadi rahmat bagi orang lain. Seorang ahli hikmah berkata, ''Di antara manusia ada yang seribu sama dengan satu orang, dan ada pula satu sama dengan seribu orang, sesuai dengan tingkat perhatiannya terhadap masalah yang menjadi profesinya.''

Menjadi rahmat maksudnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kebalikan rahmat adalah niqmah, artinya: kebencian, penyakit, siksaan, murka, dan dendam. Kalau kita tidak menjadi rahmat berarti menjadi niqmah, menjadi pendendam, penyiksa orang lain, pembawa kemelaratan, penyebar sial, dan lain-lain. Orang demikian biasanya, jangankan ada orang yang berduka cita atas kematiannya, bahkan ketika hidup pun, orang lain telah mengharapkan kematiannya.

Sudah tentu kualitas keburukan orang semacam itu tergantung kepada seberapa banyak orang yang mengharapkan kematiannya dan seberapa banyak orang tertawa dan gembira atas kematiannya. Marilah kita berusaha untuk menjadi rahmat bagi orang lain.

(sumber:Republika)

Rahmat Allah


Seorang dokter mengoperasi badan manusia. Disakitinya manusia yang datang kepadanya. Dia bedah badan itu dengan pisau, lalu dijahit. Dan, manusia yang datang ini sukarela. Ikhlas. Dia nggak marah. Dia menerima dengan lapang dada atas apa yang dilakukan dokter tersebut. Bahkan, banyak berharap bahwa dengan disakiti begitu, semoga ia bisa sehat. Dokter menyiapkan pisau-pisau bedah dan peralatan operasi lainnya. Manusia yang datang ini pun tahu, tapi siap dan menyiapkan diri. Pasrah terhadap tindakan apa pun yang dilakukan oleh dokter tersebut.

Mengapa? Kok bisa menerima, pasrah, bahkan berharap? Ya, karena dia tahu bahwa dokter bukan sedang menyakitinya. Bahwa dia harus disuntik, dibelah, dan dijahit sebab dokter itu bertujuan untuk menyembuhkan dan mengangkat penyakitnya.

Dan, demikianlah dengan Allah. Allah Yang Maharahman, memberikan azab kepada manusia sebagai peringatan. Yang demikian ini karena kasih sayang-Nya juga. Allah menghendaki kita berbenah, memperbaiki diri, mengubah sebab-sebab yang membawa kita kepada kehancuran yang sebenarnya, yakni azab Allah yang kekal pada hari akhir.

Kejadian apa pun, baik bencana alam, bencana yang terjadi di negeri ini, dan bahkan yang terjadi di dalam diri kita dan keluarga kita, adalah salah satu wujud kasih sayang-Nya. Bila tidak, Allah sudah akan timpakan azab-Nya, tanpa peringatan-Nya.

Semoga kejadian demi kejadian di negeri ini dan apa yang terjadi di dunia, bahkan juga yang terjadi pada diri kita dan keluarga kita, membawa keinsafan kita semua. Bahwa banyak sekali kesalahan kita. Baik terhadap Allah, terhadap alam-Nya, terhadap sesama makhluk-Nya, bahkan terhadap diri kita sendiri.

Manakala kita tidak membawa diri kita sujud, rukuk, dan beribadah sepenuh hati kepada Allah. Hal itu malah akan membawa kita kepada kemaksiatan dan dosa. Masih banyak waktu untuk berubah dan berbenah. Sebelum datang azab yang lebih besar.

Perhatikan surah as-Sajdah [32]: 21. "Dan, pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Allah SWT memberikan ujian berupa bencana semata-mata agar umat manusia mengambil hikmah dan pelajaran serta memperbaiki diri, supaya mereka kembali ke jalan yang benar, yakni jalan yang lurus dan diridhai-Nya. "... barang siapa bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS al-Maidah [5]: 39).    

(sumber:Republika, edisi Senin, 24 November 2014 Hal. 1 Oleh Ustaz Yusuf Mansur)

Perlukah Malu Bila Tak Tahu


Menjadi suatu aib bagi seorang intelektual ketika ia ditanya dalam suatu pembahasan kemudian ia mengatakan, "Saya tidak tahu." Gengsi bercampur malu jika ada suatu pertanyaan yang tidak bisa ia selesaikan dengan baik. Akhirnya, ia paksakan jua untuk menjawabnya kendati uraiannya tidak berkaitan dengan pertanyaan. Tak jarang, mubalig atau cendekiawan seperti ini justru menjadi pionir penyesat umat.

Salah seorang murid Imam Malik bin Anas, al-Haitsam bin Jumail, pernah menyaksikan kejujuran gurunya. Al- Haitsam mengisahkan, tatkala ia bersama gurunya Imam Malik. "Ia (Imam Malik) ditanya mengenai 48 masalah, lalu menjawab, "La Adri (Aku tidak tahu) pada 32 masalah," kisah sang murid.

Akibat keluguan Imam Malik, si penanya merasa kesal. "Apa yang harus aku katakan kepada kaumku setelah kembali," protesnya. Imam Malik hanya menjawab, "Katakan saja, Malik bin Anas berkata, ‘Aku tidak tahu.’"

Terbayangkah, seorang imam besar mengaku tidak tahu ketika ditanya suatu persoalan? Kurang apa Imam Malik yang lintang-pukang dengan berbagai disiplin ilmu. Semua kajian fi kih dan hadis dilahapnya. Tak ada ketika itu yang lebih alim dari seorang fi gur Imam Malik. Tapi, ia sadar, manusia punya keterbatasan. Hanya Allah SWT saja yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Imam Ibnu Shalah dalam kitab Adab al-Fatawa menjelaskan, orang yang bertanya dalam kisah tersebut merupakan thalib (penuntut ilmu) yang datang dari luar Kota Madinah. Orang tersebut mela kukan perjalanan selama dua bulan sehingga bisa bertemu dengan Imam Malik.

Tetapi, Imam Malik hanya memberikan jawaban terhadap 16 masalah. Hal ini sangat wajar karena Imam Kota Madinah itu tidak pernah melakukan perjalanan selain hanya ke Kota Makkah. Itu pun untuk keperluan haji dan umrah. Seseorang yang tidak banyak melakukan perjalanan ke wilayah lain tentu akan merasa sulit untuk menganalogikan suatu masalah yang terjadi di luar daerahnya dengan persoalan yang ada di negeri asalnya.

Terlepas dari latar belakang itu, al- Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthi menulis risalah pendek yang menarik di dalam kitab al-Hawi al-Fatawa tentang kejujuran intelektual ulama salaf. Ia menemukan riwayat-riwayat yang sahih dari para saha bat dan tabiin yang merasa tidak gengsi untuk berkata, "Aku tidak tahu." Bahkan, ada sebuah riwayat yang bersumber dari perkataan Abdullah bin Mas‘ud RA, "Perkataan ‘aku tidak tahu’ adalah setengah dari ilmu".

Adapun maksud dari ungkapan ini ada lah ketika seseorang mengaku tidak tahu maka sikapnya mengindikasikan keju juran secara ilmiah dan usaha terus-mene rus untuk mencari jawabannya.

Sikap tersebut memang banyak di temu kan di kalangan Nabi SAW, sebagaimana diceritakan oleh Abdur Rahman bin Abu Laila seorang Tabi’in senior. Ia berkata, "Aku bertemu dengan 120 sahabat Anshar. Ketika salah seorang mereka ditanyai mengenai suatu persoalan, maka yang ditanya mengalihkan kepada sahabat yang lain. Begitu juga sahabat yang kedua mengalihkan kepada sahabat yang lain, sehingga kembali lagi kepada sahabat yang pertama."

Bahkan, amir al-mu’minin Umar bin al- Khattab setiap kali ditanyai menge nai suatu persoalan, maka ia selalu ber mu syawarah dan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan sahabat-sahabat Badr (Sahabat yang pernah mengikuti perang Badar).

Tak jarang seseorang menentang sesuatu yang sebenarnya belum dipahaminya dengan baik. Ini tidak hanya terjadi pada manusia biasa saja. Bahkan, orang sekaliber Nabi Musa AS ini pernah menentang prilaku Nabi Khidhr karena belum memahami hakikat dari kejadian yang dilihatnya. Inilah yang dimaksudkan Imam Abu al-Ghazali bahwa seseorang akan menentang sesuatu belum diketahuinya dengan baik.

Berdasarkan kenyataan tersebut, Imam Malik berpesan kepada orang yang menjadi mufti atau konsultan keagamaan agar berhati-hati. "Hendaklah seorang mufti berpikir ulang sebelum menjawab suatu persoalan. Apakah jawabannya menyebabkan dirinya terjebak ke dalam neraka atau mengantarkannya masuk surga," pesannya. Ini dikarenakan kesa lah an dalam berfatwa menjadi salah satu penyebab seorang mufti digiring masuk Neraka.

Dengan demikian, seorang ustaz atau dai sebenarnya tak perlu merasa malu mengakui ketidaktahuannya, hanya dikarena kan malu di hadapan jamaahnya. Tetapi hendaklah malu kepada Allah Yang Maha Mengetahui isi hati makhluk-Nya

(sumber:Republika Oleh: Hanan Putra)