Da'wah : Isra' dan Mi'raj

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui". (Q.S. Al-Israa' [17] : 1)

Peristiwa Isra' dan Mi'rajnya Rasulullah ... merupakan peristiwa besar sepanjang sejarah, peristiwa ini merupakan bukti kekuasaan Allah ... yang telah menjalankan Rasulullah ... dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina kemudian mi'raj naik sampai ke langit ke tujuh kemudian sidratul muntaha hanya dalam semalam.

Sungguh tak bisa dibayangkan apabila perjalanan Isra' Mi'raj yang Rasulullah ... jalankan merupakan hanya perjalanan ruhani alias mimpi, karena jika hal itu yang terjadi maka perjalanan Isra' Mi'raj tidak ada bedanya dengan wahyu-wahyu yang Rasulullah ... terima baik melalui bisikan Jibril maupun dari mimpi. Sehingga peristiwa Isra' Mi'raj tidak bisa dijadikan pembuktian keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sepulangnya Rasulullah dari perjalanan Isra' dan Mi'raj-nya, beliau mengumumkan tentang apa yang telah dialamiya semalam kepada kaumnya.

Dan sebagai mana yang diceritakan oleh Rasulullah bahwa perjalanan Isra' Mi'raj tersebut sebuah perjalanan yang dilakukan dengan jiwa dan ruhnya, maka seketika itu banyak dari kaum Quraisy yang menentang dan mencemoohnya dengan sebutan 'gila'. Kaumnya beranggapan mana mungkin perjalanan dari Masjidil Haram yang di Mekkah ke Masjidil Aqsha yang ada di negeri Syam (Palestina) hanya dengan waktu semalaman, padahal mereka jika hendak ke negeri Syam untuk berdagang membutuhkan waktu hingga sebulan lamanya. Tak pelak peristiwa Isra' Mi'raj yang menurut mereka tidak masuk akal membuat beberapa tergoyahkan keimanannya dan kembali menjadi murtad.

Banyak orang yang kemudian merayakan Isra' dan Mi'raj ini dengan berbagai acara yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ... bahkan tidak juga oleh para Sahabatnya dan pada umumnya malam Isra' dan Mi'raj ini dilakukan pada malam tanggal 27 bulan Rajab.

Namun demikian, pendapat 27 Rajab tahun ke-10 dari Kenabian ini bukanlah pendapat yang benar dengan petimbangan bahwa Khadijah meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun ke-10 dari kenabian sedangkan pada saat meninggalnya belum ada kewajiban shalat lima waktu sedangkan shalat lima waktu sedangkan shalat lima waktu baru diwajibkan pada malam Isra' dan Mi'raj.

Bagi kita umat di penghujung zaman ini, dapat memetik banyak hikmah dari peristiwa besar ini, di antaranya:

Pertama, Tingginya Nilai Shalat Lima Waktu.
Hikmah dari peristiwa Isra' dan Mi'raj yang terpenting adalah diwajibkannya shalat lima waktu, kewajiban shalat ini disampaikan langsung antara Allah dan Rasul-Nya di tempat yang lebih atas dari langit ke tujuh, tentunya hal ini menunjukkan urgensi dan tingginya nilai shalat, tidak ada seorang pun yang boleh mensia-siakan shalatnya, dalam sebuah hadits Rasulullah ... bersabda, "Sesungguhnya amal yang pertama kali diperhitungkan (hisab) dari seorang hamba Muslim pada hari kiamat adalah perihal shalat wajibnya, jika dia menyempurnakannya, jika tidak  akan dikatakan kepadanya : "lihatlah apakah ada shalat sunnahnya?, jika dia memiliki amal shalat sunnah maka shalat wajibnya akan disempurnakan dengan shalat sunnahnya, barulah setelah itu diperhitungkanlah amalan-amalan yang wajib yang lainnya sebagaimana itu" (H.R. Ibnu Majah)

Dengan shalat seorang hamba mengingat Allah ..., menundukkan diri kepada-Nya, memuji-Nya dan memohon kepada-Nya, jika shalat telah tertanam dalam jiwa seorang Muslim, shalatnya menjadi benteng yang akan menjaga dirinya dari perbuatan keji dan munkar.

Tingginya nilai shalat lima waktu juga tercermin dari keutamaannya, dalam sebuah dialog Rasulullah ... terhadap para Sahabatnya, beliau bertanya, "Bagaimana menurut kalian jika ada sebuah sungai di depan pintu seorang di antara kalian, yang di sana ia dapat mandi dalam sehari lima kali, apa yang akan kalian katakan? Apakah masih tersisa daki-dakinya?. Mereka menjawab, "Tidak ada daki-dakinya yang tersisa sedikitpun", Beliau bersabda, "Demikianlah pemisalan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus segala dosa" (H.R. Imam Ahmad)

Kedua, Meneguhkan Hati Rasulullah ...
Perjuangan dakwah Rasulullah .... menyebabkan banyak gangguan yang dialaminya, didustakan oleh kaumnya, bahkan sebelum terjadinya Isra' Mi'raj Rasulullah .. ditinggalkan wafat oleh orang-orang yang dicintainya terutama istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib yang keduanya banyak berperan dalam membela diri Rasulullah ... Melalui peristiwa ini Allah telah meneguthkan hati Rasul-Nya, apalagi dalam peristiwa ini telah banyak ditampakkan tanda-tanda kekuasaan Allah ... Ibnu Qayyim berkata, "Menurut riwayat yang shahih. Rasulullah ... di Isra'kan dengan jasadnya. Dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis. Dengan menaiki Buraq yang disertai Jibril, lalu turun di sana dan shalat mengimami para Nabi yang lain."

Hikmahnya bagi kita, terutama orang-orang yang berdakwah untuk agama Allah ini, antara lain hendaknya hal-ihwal sekitar peristiwa ini dapat kita baca sehingga kita menyakini bahwa pertolongan Rasul-Nya itu benar ada, karena Allah adalah Maha Kuasa atas segala apa pun, Dia akan menolong Rasul-Nya dan orang-orang yang berjuang untuk agamanya, Allah ... berfirman, "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al-'Ankabut : 69)

Ketiga, Menguji Nilai Keimanan Manusia Sepanjang Masa
Peristiwa Isra' dan Mi'raj sungguh tidak dapat dicerna akal, bagaimana mungkin seorang manusia dapat berpergian secepat kilat ke tempat yang amat jauh hanya dalam satu malam?, demikianlah mungkin pertanyaan yang tersirat di kebanyakan orang masa Rasulullah .. bahkan mungkin masih sampai saat ini.

Inilah ujian keimanan, sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kita harus mengimani tentang hal ini, karena hal tersebut bukanlah hal mustahil bagi Allah Rabb semerta alam dan segala apapun yang disampaikan Rasulullah .. adalah benar, tentangnya Allah ... berfirman, "dan Tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)" (Q.S. An-Najm : 3-4)

Sikap selalu membenarkan (tashiq) terhadap Rasulullah .. ini dicontohkan oleh Abu Bakar Shiddiq ..., ketika banyak orang yang meragukan ihwal Isra' dan Mi'rajnya Rasulullah ..., justru beliau adalah orang yang pertama-tama yang membenarkannya, Abu Bakar menjawab orang yang menyangsikan ihwal tersebut : "Dan kalau pun itu yang dikatakannya, tentu dia bicara yang sebenarnya".

Sikap inilah yang harus tertanam dalam diri kita, apapun yang beritakan Allah dan Rasulullah ... adalah benar dan tentunya akan membawa kebaikan bagi kehidupan kita dunia dan akhirat, termasuk kita harus membenarkan ajaran Islam dan syariatnya tang telah banyak diabaikan dan diragukan oleh banyak orang pada masa ini. Demikianlah peristiwa Isra' Mi'raj ini Allah .. memperjalankannya kepada Rasulullah ..., hal tersebut sesungguhnya untuk dapat di ketahui oleh orang-orang yang beriman dan berakal. Semoga ini menjadi hikmah yang besar buat kita semua. Wallahu A'lam.

Da'wah : Yang Dibolehkan Ketika Berpuasa

"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) : memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah [184] : 1)
Dari ayat itu para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa orang yang boleh meninggalkan puasa Ramadhan, di antaranya; orang sakit yang berbahaya jika ia berpuasa, orang yang mengadakan berpergian jauh, maka ia boleh meninggalkan puasa dan mengantinya di hari yang lain dengan jumlah hari yang ditinggalkannya. Juga untuk wanita haid, nifas, wanita hamil, menyusui boleh meninggalkan dengan menganti pada hari lain sebanyak puasa yang ditinggalkannya itu.

Oleh karena itu, ibadah puasa Ramadhan menjadi sarana yang utama dalam mendekatkan diri kepada Allah `azza wa jalla. Dan menjadi sarana ibadah yang khusus untuk setiap muslim. Ia datang setiap tahun menemui kita.

Islam, agama yang mulia ini menjelaskan bahwa ibadah puasa merupakan sarana penting untuk mencapai derajat taqwa. Juga salah satu amalan yang mengantarkan pelakunya mendapatkan ampunan dari dosa-dosanya. Dan ibadah puasa Ramadhan, juga sebuah amalan pelipat ganda kebaikan, mengangkat derajat seorang muslim. Allah `azza wa jalla telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari sekian amal-amal ibadah lainnya. Sebagaimana hal itu dijelaskan dalam beberapa riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya.

Dan sudah menjadi ijma' para ulama bahwa puasa Ramadhan hukumnya wajib atas setiap muslim yang baligh, berakal, sehat badan atau tidak sakit dan bermukim. Dan ibadah puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib untuk ditunaikan bagi setiap muslim. Sebagaimana ditegaskan Al-Qur'an dan as-Sunnah dan ijma'. Allah `azza wa jalla berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". (Q.S. Al-Baqarah [183] : 1)

Ada pun dari hadits, dalam sebuah riwayat yang disampaikan Thalhah bin Abdillah ra. seorang badui dantang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan rambut acak-acakan, lalu ia bertanya, beritahu kepadaku tentang puasa yang diwajibkan Allah `azza wa jalla kepadaku? Kemudian nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, Puasa Ramadhan, kecuali jika engkau ingin mengerjakan puasa sunnah. (H.R. Bukhari /46 dan Muslim /11)

Selain itu, mengenai kewajiban puasa ini disebutkan juga oleh masyhur, dan juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya. Oleh karenanya, puasa merupakan sebuah kewajiban untuk setiap muslim, dan kewajiban puasa ini tidak gugur dari mukallaf atau (orang yang sudah dibebani kewajiban) kecuali ada udzur yang dibolehkan oleh syariat. Inilah yang disebutkan para ulama di antara mereka adalah Syaikh Abu Malik bin As-Sayyid Salim, dalam shahih figh as-Sunnah, Syaikh Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, dalam kitabnya al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'aziz, Syaikh Salim bin Ied al-hilali dan ulama yang lainnya.

Hal-hal yang dibolehkan saat Berpuasa
Namun demikian, ada beberapa hal yang dibolehkan dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan, dan perkara-perkara ini jika dilakukan oleh orang yang berpuasa tidak membatalkan ibadah puasanya.

Pertama, Orang yang berpuasa boleh bangun setelah waktu Shubuh tiba dalam keadaan junub. Atau dengan kata lain, jika ia bangun kesiangan dan waktu telah tiba maka hendaklah ia melanjutkan puasanya dan tidak mengurangi pahala ibadah puasanya. Yang menjadi dalil untuk perkara ini adalah sebuah riwayat yagn disampaikan oleh Aisyah dan Ummu Salamah, bahwasanya ia berkata: "Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati fajar, dia dalam keadaan junub, kemudian ia mandi dan berpuasa" (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kedua, Menyiramkan air dingin ke kepala dan juga mandi. Seperti ini dibolehkan yang menjadi dasarnya adalah sebuah riwayat dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa ia berkata: "Sesungguhnya saya benar-benar pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di daerah Arj, beliau menuangkan air di atas kepalanya padahal beliau berpuasa karena haus dahaga atau karena suhu yang sangat panas". (H.R. Abu Daud /2072). Dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, disebutkan "Bahwa keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menuangkan air ke kepalanya dan dia dalam keadaan puasa dikarenakan rasa haus dan panas" (H.R. Abu Daud dan Ahmad).

Ketiga, Boleh berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Dengan makna memasukkan air ke hidung sekedarnya saja. Mengenai hal ini telah datang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq (memasukkan air ke hidung) kecuali kamu sedang berpuasa" (H.R. Shahih Abu Daud no. 129 dan 131)/

Keempat, Berbekam atau canduk (mengeluarkan darah kotor). Untuk bekam dan canduk ini telah datang sebuah hadits yang disampaikan Abdullah bin Abbas, ia berkata: "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam saat ia beliau sedang berpuasa" (H.R. Abu Daud /2079). Dan dipandang makruh bagi orang yang lemah fisiknya ketika ia berbekam, karena dikhawatirkan menggantu puasanya. Sebagaimana dinasehatkan oleh sahabat Anas bin Malik ketika ditanya tentang hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani.

Kelima, Mencium dan bermesraan dengan istri bagi yang mampu menahan dan mengendalikan nafsunya. Mengenai hal ini telah datang sebuah riwayat yang disampaikan oleh istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata: "Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering mencium dan bermesraan (dengan istrinya) ketika ia berpuasa. Namun perlu diingat beliau adalah orang yang paling kuat di antara kalian dalam mengendalikan nafsunya". (H.R. Mutaffaqun alaih). Bahkan dalam sebuah atsar sahabat yang diriwayatkan Imam Ahmad menyebutkan sebuah nasehat dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa sesungguhnya orang tua itu lebih dapat menahan nafsunya di bandingkan dengan yang muda.

Keenam, Mencicipi makanan. Hanya sekedar untuk mengetahui asin atau asam atau juga manis. Mengenai hal ini Abdullah bin Abbas meriwayatkan, "Bahwasanya tidak ada masalah untuk mencicipi sejenis cuka atau sesuatu selama tidak masukkan ke kerongkongannya, dan dia dalam keadaan berpuasa". (H.R. Bukhari).

Ketujuh, Membersihkan mulut dengan siwak, memakai wangi-wangian, minyak rambut, celak mata, obat tetes mata, dan juga suntikan (tidak dimaksudkan sebagai makanan). Adapun dasar dibolehkannya, sebagaimana dijelaskan Syaikh Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, adalah kembali kepada hukum asal, bahwa segala sesuatu asalnya boleh. Kalaulah hal-hal yang tersebut di atas itu dikategorikan sesuatu yang diharamkan atas orang yang sedang berpuasa, maka niscaya Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskannya. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu dan Allah `azza wa jalla tidak akan lupa. Allah `azza wa jalla berfirman: "Dan tidaklah Rabbmu lupa" (Q.S. Maryam : 64).

Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Adapun siwak (ketika berpuasa) maka itu dibolehkan tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Akan tetapi, para ulama berselisih pendapat tentang makruhnya hal itu jika dilakukan setelah waktu zawal (matahari tergelincir ke barat). Ada dua pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dalam masalah ini. Namun yang tepat, tidak ada dalil syar'i yang mengkhususkan bahwa hal tersebut dimakruhkan. Padahal terdapat dalil-dalil umum yang membolehkan untuk bersiwak."

Itulah beberapa hal yang dibolehkan untuk orang yang sedang berpuasa di siang hari, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Islam kita. Semoga ini menjadi tambahan pengetahuan kita tentang hal-hal yang diperbolehkan bagi orang yang sedang berpuasa sehingga kita tidak lagi ragu dan cemas ketika hal-hal itu kita kerjakan, padahal itu jelas kebolehannya. Wallaahu a'lam bishshawwab

(Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Edisi No.28 Thn.XLI, 13 Ramadhan 1435 H/11 Juli 2014 M Oleh Abdul kadir Badjuber, M.Pd.I)

Semangat


Saya melihat Indonesia bukan hanya hari ini saja. Tapi jauh lagi lebih ke depan.  Indonesia yang butuh kepositifan dari siapa pun stakeholder-nya. Indonesia yang butuh semangat dari semua penduduk negerinya. Dan terlebih lagi, Indonesia butuh doa dari semuanya.

Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) pada Rabu, 9 Juli 2014, adalah ikhtiar kita dan ibadah kita. Bukan Tuhan bagi kita. Sebagai ikhtiar dan ibadah, insya Allah masing-masing akan diganjar oleh Allah SWT sesuai dengan niatan masing-masing. Dan saya memilih untuk percaya bahwa semuanya punya niatan lillahi ta'ala dan harapan serta doa yang baik buat negeri Indonesia ini.

Mari lanjutkan perjalanan menata dan membangun negeri tercinta ini. Masing-masing individu negeri, kembali kepada posisinya masing-masing, dan kembali melanjutkan pengabdiannya yang terbaik buat bangsa dan negara.

Saya banyak melihat dan mendengar, orang-orang yang kemudian berterima kasih sebab tidak terpilih. Dan sebaliknya, menyesal sebab terpilih. Menyesal yang kadang jadi berkepanjangan. Tentu pembaca tahu apa yang dimaksud.

Dan saya pun banyak melihat dan mendengar, banyak orang yang memanfaatkan sebaik-baiknya setiap kesempatan yang diberikan Allah SWT saat diberikan kesempatan untuk berkuasa.

Pada saat yang sama, saya pun tidak sedikit melihat dan mendengar, banyak juga orang-orang yang besar, tetap melanjutkan perjuangan dan pengabdiannya, yang terbaik, untuk bangsa dan negaranya. Meskipun tidak terpilih masuk di pemerintahan.

Ya, sebab siapa pun ia, di mana pun ia, sebagai apa pun dirinya, Allah dan Indonesia memanggil untuk memberikan kontribusi terbaik dari apa yang bisa dilakukannya.

Tidak ada yang punya peran lebih baik dan lebih berharga. Semuanya sama jika niatnya sama. Selebihnya, biarlah Allah SWT yang melihat dan menilai. Dan biarlah pula bumi pertiwi yang merasakannya.

Senantiasa diri ini berdoa. Untuk semua. Tetap untuk semua. Dengan doa yang disesuaikan dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan. Kepada yang terpilih nanti, negeri ini bukan miliknya dan bukan milik siapa yang mendukungnya. Doa teriring untuknya. Kepada yang tidak terpilih, pun doa terpanjat. Doa terbaik. Kepada seluruh rakyat, pun saya pilih berdoa dan mendoakan.

Allah tidak akan pernah salah dalam memutuskan, berkehendak, dan berbuat. Pastilah semua yang terbaik, untuk Indonesia, untuk semua rakyatnya, semua umat manusia, bahkan untuk alam semesta dan segala isinya yang saling kait mengait.

(sumber:Republika, edisi Kamis, 10 Juli 2014 Hal. 1 Oleh Ustaz Yusuf Mansur)

Praktik Bisnis Yahudi

Sejak kalah dalam Perang Khaibar, Yahudi Madinah bersumpah menuntut balas untuk menumpas Muhammad SAW dan para pengikutnya. Perang tersebut dikomandoi oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. Dalam ekspedisi itu, umat Islam memperoleh kemenangan yang gilang gemilang.

Begitulah kemudian, dipelopori oleh tokohnya, Huyai bin Akhtab, orang-orang Yahudi membentuk gerakan rahasia -- khusus untuk menghasut, mengadu domba, menyebarkan isu bohong dan berkhianat bila mengadakan perjanjian dengan umat Islam. Kalau saja Allah SWT tidak menginformasikan hal tadi kepada Rasulullah (melalui wahyuNya), mungkin kaum muslimin kala itu sudah termakan manuver Yahudi yang sangat mendendam terhadap perkembangan Islam itu.

Kenyataannya: memang mereka tak saja telah terdesak keyakinannya. Juga lantaran 'imperium dagang' yang selama ini dibangun para konglomerat Yahudi -- harus berhadapan dengan saudagar Muslim yang menjalankan praktek bisnis berdasarkan etika ajaran Muhammad SAW. Dan akhirnya, kolusi yang dibangun antara Yahudi Madinah dengan pengusaha Quraisy di Mekah tidak membawa hasil, bahkan sebaliknya menarik simpati masyarakat luas terhadap Islam.

Abdullah bin Ubay yang menonjol dalam melakukan manuver -- antara lain pernah membelot bila ikut berjihad -- di zaman Nabi SAW tak berhasil menjalankan usaha memecah belah umat. Sepeninggal Rasul SAW, Sayidina Abu Bakar r.a. bertindak tegas pada komplotan Bani Israel yang sempat pula memancing di air keruh namun gagal. Begitu pula di zaman Khalifah Kedua Sayyidina Umar bin Khattab. Karena begitu kuat dan disiplinnya pemerintah Umar, hingga membuat mereka tak berkutik menghadapi kepemimpinannya.

Sepeninggal Umar, suksesi berjalan lancar, lantaran sudah diletakkan dasar-dasar pemilihan yang demokratis (syura) berdasarkan etika Alquran dan pengalaman praktis khalifah sebelumnya. Melalui majelis legislatif (ahlul halli wal aqdi) yang diduduki para sahabat terpandang (antara lain wakil dari Partai Muhajirin dan Anshar), majelis kemudian memilih Sayidina Usman bin Affan sebagai khalifah.

Kepemimpinan lelaki sepuh menantu Nabi yang agak 'longgar' ini lalu dimanfaatkan oleh komplotan Yahudi untuk memecah belah umat. Mereka sengaja menghembuskan isu bohong dikotomi sahabat dan keluarga Nabi (Ahlul Bait). Umat sempat terpecah belah, dan darah mengalir. Reputasi Yahudi seperti itu sudah sangat dikenal. Apakah umat Islam akan terus membiarkan diri jadi korban mereka lagi?

(sumber:republika.co.id)

Bulan Tarbiyah

Bulan suci Ramadhan nan istimewa kembali menyapa kita. Semoga kita yang menegakkan amal pada bulan nan agung ini dibalas Allah dengan lipatan pahala yang banyak. Kehadiran Ramadhan adalah bukti kasih sayang Allah kepada kita yang mengimani-Nya. Pembuktian itu, di antaranya terasanya kita sebagai seorang hamba, `aabid sejati-Nya. Prosesi ta'abbud tampak syiar pada bulan yang datangnya setahun sekali ini.

Orang-orang beriman seperti mudah tergerak untuk berlama-lama dalam shalat, baik shalat fardhu, shalat tarawih, shalat witir, atau shalat-shalat sunah lainnya. Juga terasa ringan untuk duduk lama membaca Alquran (tadarus), bahkan mampu mengkhatamkannya berkali-kali.

Tangan serasa gampang untuk berbagi dengan sesama dalam bentuk zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Bahkan, dengan jumlah yang lebih besar dari pada bulan-bulan lainnya. Geliat munajat, zikir, dan iktikaf menjadi pemandangan yang akhirnya masif terlihat.

Prosesi ta'abbud inilah yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah, bulan untuk mendidik setiap hamba agar menjadi seorang `aabid, hamba Allah SWT yang sejati.

Ada beberapa alasan Ramadhan disebut sebagai bulan tarbiyah. Pertama, pelaksanaan ibadah shaum lebih lama dibandingkan amalan ibadah lain, seperti shalat, zakat, dan haji. Shalat dapat diselesaikan dengan waktu yang cukup singkat, demikian juga dengan zakat.

Manasik haji, sebenarnya bisa selesai dalam lima atau enam hari, 8-12 Dzulhijjah (kalau mengambil nafar awal) atau sampai 13 Dzulhijjah (jika memilih nafar tsani). Sementara, Ramadhan men-tarbiyahseorang mukmin sebulan penuh, rentang waktu yang cukup panjang dan lama.

Kedua, banyak kategori ibadah dihadirkan pada bulan mulia ini, berposisi sebagai penunjang terbentuknya pribadi yang `aabid. Ada puasa, shalat ta rawih, tadarus, iktikaf, ada juga sedekah dan zakat serta ada pula umrah yang utama.

Rasulullah SAW menjadi teladan yang jelas bagaimana Ramadhan menjadi bulan tarbiyah yang sangat spesial dalam semua amal ibadah dan kebaikan lainnya. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, seperti sedang berlari kencang, Rasul yang mulia itu memperhebat semua amal ibadahnya.

Ketiga, pahala yang dilipatgandakan menjadi bukti kehadiran Ramadhan mentarbiyah seorang hamba untuk menjaga motivasi semua amal kebaikannya. Amal sunah diganjar pahala wajib. Amal wajib dilipatgandakan dengan kelipatan yang tak bertepi.

Bahkan, pahala puasa begitu spesial karena Allah yang menetapkan nilainya. "Puasa adalah untuk-Ku. Dan, hanya Aku yang membalasnya." (HR Ahmad)

Pantaslah jika semua yang merindukan ridha, rahmat, dan surga Allah berharap semua bulan adalah Ramadhan. Sebab, begitu banyak lagi keindahan kasih dan sayang-Nya pada bulan yang mulia ini.

Mari membentangkan tangan kita atas kehadirannya dengan bertekad untuk menjadi seorang hamba yang benar dalam mengisi bulan penuh berkah ini. Wallahu a'lam.

(sumber: Republika edisi : Jumat, 04 Juli 2014 hal. 01 Oleh Ustaz HM Arifin Ilham)