Da'wah : Menyambut Bulan Muharram

"Sesungguhnya bilangan Bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (Q.S. At-Taubah [9] : 36)

Dalam agama Islam, perhitungan tahun baru Hijriah, diawali dengan bulan Muharram yang dikenal oleh orang Jawa dengan sebutan bulan Suro. Dalam Islam bulan Muharram merupakan salah satu bulan di antara empat bulan haram. Hal  ini didasarkan pada firman Allah `azza wa jalla : "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (Q.S. At-Taubah [9] : 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut ? Dari Abu Bakroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi.  Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo'dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab". (H.R. Bukhari dan Muslim)

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qadhi Abu Ya'la rahimahullah mengatakan, "Dinamakan bulan haram karena dua makna, Pertama: pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan atau peperangan. Orang-orang Jahiliyyah pun menyakini demikian. Dan kedua: pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan." Demikian pendapat Ibnul Jauziy ketika menafsirkan ayat di atas.

Ibnu 'Abbas mengatakan, "Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shalih yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak."

Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (H.R. Muslim)

Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahruallah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafadz jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafadz jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.

Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhasyari, kami nukil dari Faidhul Qadir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, "Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafadz jalalah 'Allah' untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut "Baitullah" (rumah Allah) atau 'Ahlullah' (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus  di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya ke-utamaan pada bulan tersebut. (lihat Faidhul Qodir, Al Munawi, 2/53, Mawqi' Ya'sub.)

Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Dan dalam rangka menyambut dan bukan memperingati atau merayakan tahun baru hijriyah, berikut ini beberapa hal yang hendaknya dilakukan oleh ummat Islam.

Pertama, Setiap muslim senantiasa dengan bangga menunjukkan jati diri keislaman nya, antara lain dengan lebih mengutamakan penggunaan kalender Hijriyah sebagai salah satu identitas ummat pengikut Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalla.

Hal ini sesuai dengan firman Allah `azza wa jalla : "Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagaian yang lain sebagai Tuhan selain Allah", jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka : "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Islam (yang berserah diri kepada Allah)". (Q.S. Ali Imran : 64)

Kedua, Menjadikan fenomena pergantian waktu; siang-malam, hari, pekan, bulan, tahun dan seterusnya yang merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah, untuk banyak bertafakkur dan berdzikir mengingat muroqobah (pengawasan) Allah, dan bukan untuk merayakannya dengan cara-cara yang penuh dengan kesia-siaan, seperti yang biasa kita saksikan pada fenomena penyambutan tahun baru yang lain.

Ketiga, Mengingatkan bahwa, berdasarkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada contoh aktifitas atau praktek ritual tertentu dalam menyambut pergantian tahun.

Keempat, Namun tidak ada salahnyan, bahkan sangat baik jika momentum ini digunakan untuk hal-hal bermanfaat yang tidak bersifat ritual khusus, seperti diambil ibrah dan pelajaran darinya, disamping dimanfaatkan untuk muhasabah dan instropeksi diri, Karena setiap muslim harus selalu melakukan muhasabah diri, di samping setiap saat, juga yang bersifat harian, pekanan, bulanan, tahunan dan seterusnya. Umar bin Khattab rahimahulullah berkata : "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang paling besar (hari menghadap Allah)".

Kelima, Mengambil ibrah dari semua kejadian dan peristiwa sepanjang tahun sebelumnya, dan tahun-tahun sebelumnya dimana berbagai krisis dan konflik multidimensi, serta musibah dan bencana besar silih berganti telah mengharu biru kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya dan ummat Islam pada khususnya. Padahal itu semua hanyalah sebagian saja diantara hak sanksi atau hukuman atas fenomena maraknya bermacam-macam kejahatan, kemaksiatan dan penyimpangan yang diperbuat tangan-tangan kotor manusia pendurhaka. Firman Allah `azza wa jalla : "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (Q.S. Ar Rum ; 41)

Keenam, Tahun baru Hijriyah mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka marilah kita benar-benar menghijrahkan diri dari segala bentuk keburukan menuju kebaikan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kejahiliyahan menuju totalitas Islam dan dari kegelapan memperturutkan hawa nafsu menuju cahaya terang keikhlasan dalam menggapai ridha Allah.

Ketujuh, Mengingatkan ummat Islam dan masyarakat bahwa, marak dan merajalelanya berbagai bentuk kemaksiatan yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan selama ini, tidak terlepas dari fenomena lemahnya semangat dan usaha da'wah serta amar bil ma'ruf wannahi 'anil munkar di kalangan masyarakat. Oleh karenanya mari kita tingkatkan aktifitas da'wah yang berorientasi pada pembinaan generasi ummat dan pencegahan serta pemberantasan kemungkaran di muka bumi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Barang siapa diantara kamu melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu pula, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman" (H.R. Muslim)

Kedelapan, Secara khusus kami mengajak seluruh ummat Islam untuk mengawali tahun baru Islam ini disamping dengan bentuk-bentuk ketaatan lain dengan memperbanyak puasa di bulan Muharram khususnya pada tanggal 10 dan 9 ('Asyura dan Tasu'a)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam". (H.R. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Kalau Aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan puasa pada tanggal 9 (Muharram). (H.R. Muslim). Wallahu A'lam bish shawab.

(Sumber: Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Edisi No.43 Thn.XLI, 29 Dzhulhijjah 1435 H/ 24 Oktober 2014 M Oleh Agung Cahyadi, MA (Ikadi Jatim))

Takwa Sosial


Alkisah ketika mengajarkan surah al-Ma'un dan meminta para santri mengulang-ulang surah tersebut, KH Ahmad Dahlan ditanya perihal mengapa surat itu saja yang dibaca dan diulang. Mendengar pertanyaan itu, Kiai Dahlan balik bertanya, "Apakah kalian sudah paham surat ini? Apakah kalian sudah mempraktikkannya?" 

Kiai Dahlan lantas meminta murid-muridnya untuk mencari orang paling miskin yang bisa ditemui di masyarakat, kemudian memandikannya dan menyuapinya. Kisah ini mengajarkan bahwa Alquran tidak hanya dibaca untuk penghias kesalehan pribadi, tapi juga dipraktikan dalam amal sosial.

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, surah al- Ma'un ini berbicara mengenai keharusan adanya kaitan antara amal ritual dan amal sosial dalam beragama. Jika ditelisik lebih jauh, Alquran lebih banyak menekankan amal sosial daripada amal ritual.

Pertama, kalau kita kembali kepada ciri-ciri orang mukmin atau orang bertakwa maka ditemukan di situ ibadah ritualnya satu, tetapi ibadah sosialnya banyak. Misalnya, berbahagialah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya (dimensi ritual); yang mengeluarkan zakat (dimensi sosial); orang yang berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat (dimensi sosial); dan mereka yang memelihara kehormatannya kecuali kepada istrinya (dimensi sosial).

Anehnya kita sering mengukur orang takwa dari ritualnya ketimbang sosialnya. Kedua, kalau ibadah itu ibadah ritual dan kebetulan pekerjaan itu bersamaan dengan pekerjaan yang lain yang mengandung dimensi sosial, kita diberi pelajaran mendahulukan yang sosial. Misalnya, Nabi SAW pernah melarang membaca surah yang panjang-panjang di dalam shalat berjamaah. Nabi pernah memperpanjang waktu sujudnya hanya karena di pundaknya ada cucunya di situ. Dalam sebuah riwayat, bahkan hal tersebut dilakukan ketika nabi sedang shalat sunah.

Ketiga, kalau ibadah ritual kita bercacat, kita dianjurkan untuk berbuat sesuatu yang bersifat sosial. Misalnya, ritual puasa. Kalau kita melanggar larangan puasa maka salah satu tebusannya adalah memberi makan kepada fakir miskin. Juga ritual haji, kalau terkena dam, kita harus menyembelih binatang dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.

Sebaliknya, kalau ada cacat dalam ibadah dimensi sosial maka amal ibadah ritual tidak bisa dijadikan sebagai tebusan ibadah sosial itu. Misalnya, kalau kebetulan kita berbuat zalim terhadap tetangga maka kezaliman itu tidak bisa dihapuskan dengan shalat malam selama sekian malam. Banyak keterangan malah mengatakan bahwa orang yang shalatnya baik atau ibadah mahdhahnya baik tetapi kemudian amalnya jelek secara sosial maka Allah tidak menerima seluruh amalan ibadah mahdhahnya tersebut. 

Seperti pernah seseorang datang kepada Rasulullah yang mengadukan ada seseorang yang puasa tiap hari dan shalat malam dengan rajin, tetapi dia menyakiti tetangga dengan lidahnya. Apa kata Rasulullah SAW? "Perempuan itu di neraka," sabdanya.

Dengan demikian, perlulah kiranya kita memahami bahwa ibadah ritual apa pun dalam Islam pasti tujuannya ialah bukan untuk menambah kas pahala individu belaka, tapi juga untuk bederma bakti membantu manusia dan kemanusiaan. Wallahu A'lam.

(sumber:Republika, edisi Kamis, 23 Oktober 2014 Hal. 21 Oleh Abdul Aziz)

Menyatu dengan Alam


Dalam hidupnya, manusia membutuhkan matahari, bulan, bintang, dan alam semesta lainnya. Lebih dari itu, manusia adalah makhluk yang hidup di bumi yang menjadi bagian dari jagat raya atau alam semesta. Hidup manusia pun tidak dapat dipisahkan dengan alam semesta.

Sebagai makhluk yang tidak bisa dipisahkan dengan alam semesta hendaknya kita mampu meyatukan diri dengannya. Caranya, yakni melakukan berbagai interaksi dengan alam semesta dalam berbagai kesempatan.

Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita untuk menyatukan diri dengan alam. Hal ini terlihat dari diperintahkannya diri kita untuk mentadaburi alam semesta ini. Allah SWT berfirman, "(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Ali Imran [3]: 191).

Dalam ayat lain, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Mahapemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." (QS al-Mulk [67] : 3-4).

Perintah lain, kita diminta untuk merespons kejadian atau keunikan alam yang kita lihat atau kita hadapi. Misalnya, ketika kita menyaksikan gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari, kita diperintahkan untuk berzikir dan melaksanakan shalat gerhana.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang, atau kehidupannya (kelahirannya). Jika kalian melihat gerhana maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah, dan shalatlah." (HR Bukhari).

Ketika kita mampu menyatukan diri kita dengan alam semesta maka kita akan menyakini akan kebesaran dan keagungan Allah SWT yang membuat keimanan kita semakin kuat dan menumbuhkan rasa syukur kepada-Nya. Selain itu, ketika kita menyatukan diri dengan alam semesta, sesungguhnya kita telah menyatukan zikir atau ketundukkan kita dengan zikir atau ketundukkan alam semesta kepada Allah SWT. 
 
Allah SWT berfirman, "Apakah kamu tiada mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata, dan sebagian besar daripada manusia? Dan, banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS al-Hajj [22] : 18). Wallahua'lam.

(sumber:Republika, edisi Rabu, 22 Oktober 2014 Hal. 25 Oleh Moch Hisyam)

Napas Waktu Subuh


Dalam Alquran Allah SWT sering bersumpah dengan waktu, dari waktu fajar (subuh), dhuha, siang hari, sore, dan senja (ashar), hingga malam hari. Menurut para pakar tafsir, setiap benda atau sesuatu yang dijadikan objek sumpah oleh Allah terkandung di dalamnya dua makna.

Pertama, menunjukkan sesuatu itu penting atau terkandung kebaikan di dalamnya. Kedua, ia menjadi tanda atau penunjuk jalan bagi kekuasaan dan kebesaran Allah SWT yang mesti dipahami.

Dalam surah at-Takwir, Allah bersumpah dengan waktu subuh. "Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing." (QS at-Takwir [81]: 18). Sumpah ini menarik. Dalam Alquran tidak ada benda tidak bernyawa dinyatakan "bernapas" (hidup), kecuali waktu subuh. Apa maknanya?

Mutawalli Sya'rawi memahami ayat ini sebagai tasybih, yakni analogi kedatangan agama Islam dengan waktu subuh. Subuh merupakan permulaan hari ketika cahaya [fajar] mulai bersinar. Subuh juga menyemburkan udara segar yang sangat berguna bagi kesehatan manusia.

Seperti waktu subuh, kedatangan agama Islam memulai kehidupan baru, menyibak kegelapan kelam jahiliyah. Dengan Islam, kehidupan bisa dimulai kembali dan manusia bisa bernapas lega dengan bimbingan dan petunjuk Alquran.

Karena bercahaya dan mengeluarkan udara segar, waktu subuh dipandang sebagai makhluk hidup, bernapas (bernyawa). Kalau pada malam hari pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan karbondioksida, saat subuh (pagi hari), pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen alias udara pagi yang bersih dan sejuk.

Napas waktu subuh itu berkah bagi manusia. Nabi Muhammad SAW pernah berdoa, "Allahumma barik li-ummati fi bukuriha" (Ya, Allah berikan keberkahan bagi umatku pada permulaan harinya.) (HR Abu Daud dan Thirmidzi).

Keberkahan waktu subuh itu berdimensi fisik dan nonfisik (spiritual). Dari sisi spiritual, dua rakaat shalat (sunah) fajar disebut oleh Nabi SAW, "lebih baik dari dunia dan segala isinya." (HR Muslim).

Orang-orang terbaik dari generasi sahabat dan tabi'in (al-salaf al-shalih) tidak pernah tidur lagi setelah melakukan shalat Subuh. Mereka berzikir dan membaca wirid-wirid hingga matahari terbit. Tak lama setelah itu, mereka melaksanakan shalat Dhuha, kemudian mereka memulai kerja dan aktivitas.

Dari sisi fisik (duniawi), keberkahan (napas) waktu subuh itu dikaitkan dengan kesehatan, kemajuan ekonomi, dan kesuksesan dalam hidup. Rasulullah SAW pernah mengingatkan Fatimah al-Zahra, putrinya, agar tidak tidur lagi setelah shalat Subuh. (HR Baihaqi).

Pada kesempatan lain, Rasul juga mengingatkannya agar bangun pagi dan giat mencari rezeki. Sebagaimana sabdanya, "Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya, pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan." (HR Thabrani dan Al-Bazzar).

Dalam banyak penelitian diketahui, orang yang rajin bangun pagi, beribadah, dan berolahraga, ia lebih sehat (bugar), lebih produktif, dan memiliki peluang lebih besar meraih kesuksesan. Bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, keberkahan waktu subuh itu sangat nyata. Tidak bangun pagi, berarti petaka. Telat pergi ke kantor, stres di jalan karena macet, dan banyak energi terbuang percuma. Wallahu a'lam. 
(sumber:Republika, edisi Selasa, 21 Oktober 2014 Hal. 21 Oleh A Ilyas Ismail)

Berliana Febrianti : Makin Hormat Kepada Ibu


''Surga itu di bawah telapak kaki ibu.'' Artis sinetron Berliana Febrianti mengutip Hadis Rasulullah Muhammad SAW itu tidak sedang berceramah agama. Juga tidak sedang menasihati anak-anak. Ia mengatakan hal itu, menceritakan pengalamannya saat melahirkan kedua anaknya. ''Melahirkan itu rasanya sakit sekali. Belum lagi membayangkan bagaimana nantinya nasib anak yang akan dilahirkan. Kita kan tidak tahu sama sekali apa yang bakal terjadi,'' tutur istri dari Teuku Muhammad Refikasyah ini.

Menurut artis kelahiran Jakarta, 21 Februari 1973 ini, saat dalam proses melahirkan, yang teringat olehnya justru nasib anaknya: apakah akan lahir dengan sehat dan selamat, apakah cacat, dan sebagainya. Rasa sakit karena melahirkan sudah tak terasa lagi, dikalahkan oleh bayang-bayang anak yang akan keluar dari rahimnya. ''Itu yang muncul dalam benak saya. Saya rasa semua wanita sama, kita akan berkorban bahkan nyawa sekalipun untuk anak kita,'' ujarnya sembari menambahkan, sejak kelahiran anak pertama ia semakin cinta dan hormat kepada ibunya. ''Karena saya mengalami sendiri bagaimana sakitnya seorang ibu saat melahirkan anak-anaknya.''

Sejak kelahiran anak pertama dan kemudian kedua, Lia panggilan sehari-hari Berliana Febrianti  mengaku semakin memahami ajaran Islam yang menempatkan ibu sebagai sosok yang paling dihormati. ''Seperti yang dikatakan Rasulullah bahwa yang pertama harus kita hormati adalah ibu. Rasulullah menyebut hingga tiga kali, baru kemudian bapak,'' ujar Lia mengutip sebuah Hadis.

Lia menuturkan, untuk persiapan proses melahirkan, selain mengikuti petunjuk medis dari dokter, ia juga mempersiapkan diri dari segi mental-spiritual. ''Melahirkan itu berarti mempertaruhkan nyawa. Dokter hanya membantu, sedangkan nasib ibu dan anaknya ada pada Allah SWT,'' ia menjelaskan. Persiapan mental-spiritual itu, Lia menerjemahkannya dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Antara lain dengan memperbanyak membaca surat Yasin, Al-Fatikhah, surat Yusuf, Maryam, dan melengkapinya dengan berbagai doa.

Lia mengaku beruntung mempunyai buku kumpulan doa khusus untuk orang yang akan melahirkan. Buku itu sudah ia miliki sejak mengandung anak pertamanya dan ia simpan untuk persiapan kelahiran anak kedua dan seterusnya. Sepanjang mengandung anaknya, buku itu selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Menurut Lia, setelah membaca doa, ia merasa lebih tenang. ''Saya merasa plong. Saya secara total sudah berserah diri kepada Sang Pencipta. Selanjutnya kalau terjadi apa-apa, itu kehendak dan kuasa Allah,'' ungkap ibu dua anak ini.

Lia menambahkan, selain persiapan dari dirinya, suaminya juga sangat mendukung dan membantunya dari sejak kehamilan hingga melahirkan. Bahkan suaminya juga terus mendampinginya saat ia dalam proses melahirkan. ''Suami saya sangat tenang ketika menemani saya dalam proses melahirkan. Ini jelas sangat membantu saya,'' ujar ibu dari Teuku Muhammad Refansyah Refikasyah dan Shayla Azalea Refikasyah ini.

Menurutnya, tugas orang tua sangat berat untuk membesarkan anak-anaknya. Ia menyatakan, 'hitam putih' anak akan sangat dipengaruhi kedua orangtuanya. Karena itu, lanjut Lia, ia dan suaminya berupaya mengenalkan ajaran agama sejak sedini mungkin usia anak-anaknya. Misalnya, dengan mengucapkan Assalamu 'alaikum ... saat akan pergi maupun pulang ke rumah kepada mereka.

Lia merasa senang ketika anak pertamanya menyenangi lagu anak-anak yang bertema Islami. ''Lagu-lagu Islam anak-anak sekarang kan bagus-bagus, dari situ anak saya jadi hafal dan mulai banyak tanya,'' katanya. Yang ditanyakan anak, lanjut Lia, misalnya siapa Allah itu, karena anak-anak tentu belum tahu Allah itu seperti apa. ''Saya lalu menjelaskan bahwa Allah itu seperti dalam lagu itu. Saya jelasin pada anak saya bahwa Allah itu bukan manusia seperti kita, Allah bukan patung, Allah bukan hewan, Dia lebih tinggi lagi.''

Dengan sabar, Lia menjelaskan satu per satu ajaran agama kepada anaknya. Dari situ, kata Lia, anaknya mulai mengerti. ''Misalnya ketika anak pertama saya mengganggu adiknya, saya bilang, itu tangan siapa yang kasih? Dia bilang Allah. Allah kasih tangan untuk apa? Anakku jawab untuk menyayang. Ya sudah, tidak boleh pukul adik.''

Lia menuturkan, meskipun tanggung jawab orangtua terhadap anak-anaknya sangat besar, namun di sisi lain anak merupakan karunia dari Allah yang harus disyukuri. Mereka merupakan perekat orangtua yang sekaligus penghibur. ''Selain itu, dengan memiliki anak hidup kita menjadi terarah. Tujuan hidup kita menjadi jelas,'' katanya. Dengan kelahiran kedua anaknya, Lia mengaku semakin lengkap hidupnya. ''Semua itu sungguh saya syukuri. Saya telah diberi suami yang baik dan bertanggung-jawab, karir yang bagus, dan anak-anak yang menyenangkan,'' ujar artis yang melejit lewat sinetron 'Noktah Merah Perkawinan'.

Lia mulai dikenal masyarakat sejak bermain sebagai Ambar dalam sinetron 'Noktah Merah Perkawinan'. Aktingnya sangat mengesankan, terutama bagi ibu-ibu rumah-tangga. Namun, katanya, ketenaran bukanlah tujuan. Ia menjalani pekerjaan sebagai artis hanya sekadar profesi. ''Kebetulan saya menyukai profesi itu.'' Menurutnya, ketenaran hanyalah konsekuensi dari perkerjaan yang mau tidak mau harus dijalankannya. ''Saya kadang juga ingin sendiri dan tetap cuek saat di tempat umum. Tapi, ya sudah risiko yang harus diterima,'' katanya.

Ditanya tentang peran yang sangat berkesan selama berkarir sebagai artis, Lia menunjuk film 'Putisi tak Terkuburkan' garapan sutradara Garin Nugroho. Lia lalu menceritakan pengalamannya saat main di film yang berlatarbelakang budaya Aceh itu. Menurutnya, Islam di sana sudah berbaur dengan budaya. Dari lagu-lagu yang dinyanyikan beramai-ramai (didong), liriknya kental sekali dengan nuansa Islam. Lia merasa terbawa dalam keseharian orang-orang Gayo di Aceh.

Lia lalu bercerita tentang kesannya yang sangat mendalam tentang Masjidil Haram. Misalnya, bagaimana rasa bangga dan sekaligus bersyukur ketika melihat dari dekat Ka'bah yang menjadi kiblat umat Islam sedunia.

Sepanjang ibadah, ia idak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur itu. ''Pokoknya di sana setiap langkah yang diucapkan rasa syukur terus deh, karena diberi kesempatan ke Tanah Suci,'' ujar bintang iklan ini. Ketika melaksanakan thawaf, Lia sempat berpikir tidak akan mungkin mencium Hajar Aswad karena ia berada pada lapisan paling luar. ''Tapi tiba-tiba ibu saya ada di depan saya padahal tadinya tidak bareng, terus saya ditarik dan didorong terus hingga sampai ke depan,'' kenang putri pasangan Sugeng Kartorejo dan Pertiwi ini.

Menurut Lia, mungkin karena ibunya sudah pernah naik haji, sudah tahu bagaimana agar bisa mencium Hajar Aswad. Sejak saat itu, ia terus penasaran dan ingin mencium lagi batu hitam di pojok Ka'bah itu. ''Sampai sekarang Hajar Aswad itu terus terbayang dalam diri saya.''

(sumber:Republika.co.id)