Pesona Akhlak Rasul

Diposkan oleh tujuh oprek

HIKMAH
(Oleh Makmun Nawawi)

Suatu ketika Rasulullah SAW ber- jalan di Kota Makkah. Beliau me - lihat seorang wanita tua me nung- gu seseorang yang bisa dimintai tolong membawakan barangnya. Benar saja, begitu Rasulullah lewat di depannya, ia memanggil, \"Ya ahlal Arab! Tolong ba - wakan barang ini, nanti akan kubayar.\"
Rasulullah SAW sengaja lewat di hadapan nenek itu karena bermaksud hendak menolongnya. Maka, ketika Ra- sulullah menghampirinya, beliau se ge - ra mengangkat barang-barang itu se- ra ya berkata, \"Aku akan mengang- katkan barangmu tanpa bayaran.\"
Nenek tua itu amat senang men de - ngar perkataan tersebut karena selama ini amat jarang orang membantunya tanpa pamrih. Biasanya, walaupun tidak meminta, tetapi jika dia memberi ba- yaran, orang dengan senang hati akan menerimanya. Dia pandangi wajah Mu - hammad yang bersih dan teduh. Dia yakin anak muda yang menolongnya ki - ni adalah seorang pemuda yang berbudi luhur.
Di tengah perjalanan wanita itu menasihati Rasul. \"Kabarnya di Kota Makkah ini ada seorang yang mengaku nabi, namanya Muhammad. Hati-hati- lah engkau dengan orang itu. Jangan sampai engkau teperdaya dan memer- cayainya.\"
Nenek tua itu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang menolongnya dan kini bersamanya adalah Muhammad, sang nabi. Maka, Rasul SAW berkata kepadanya, \"Aku ini Muhammad ....\"
Nenek tua itu terperangah menge- tahui pemuda yang menolongnya ada - lah Muhammad yang diceritakannya.
Maka, pada saat itu juga nenek itu lang- sung meminta maaf dan bersyahadat. Ia pun kemudian memuji akhlak Rasul.
\"Sungguh engkau memiliki akhlak yang luhur.\"
Narasi ini hanya buih kecil dari samudra nan luas dari pesona akhlak yang dimiliki sang junjungan Nabi SAW.
Sifat luhur ini pulalah yang mulai ter - gerus oleh gelegak zaman yang terus- menerus mengobarkan sifat egoistis dan individualistis. Di zaman modern ini, banyak orang yang tampak sangat pelit untuk menolong sesama. Kalau - pun mau, itu dilakukan karena pamrih (ingin balasan). Padahal, manis dan in- dahnya kehidupan justru ketika satu sa - ma lain saling memberi dan mau ber - kor ban, lalu mengisinya dengan cinta.
Semangat berkorban dan memberi itu merupakan ruh dari etika Islam. Mi - salnya kita belum disebut silaturahim kalau hanya membalas kunjungan se - seorang, atau memberi sesuatu kepada orang yang pernah memberi kita.
\"Penyambung tali kerabat (silaturahim)
itu bukan orang yang membalas (hu - bungan) serupa, melainkan penyam- bung tali kerabat adalah orang yang jika sa nak keluarganya memutuskan hu - bung an dengannya, ia justru menyam - bungkannya.\" (HR Bukhari).
Rasul SAW sudah mengajarkan prinsip hidup teramat agung. Contoh - nya, segala kesukaran harus dihadapi dengan lapang dada, dan setiap keja- hatan dibalas dengan kebaikan.
\"Sungguh aku butuh naungan seo- rang teman yang tetap jernih dan be - ning bila aku mengeruhkannya,\" pekik Abul Atahiyah, sufi penyair terkenal di era Khalifah Harun ar-Rasyid (w. 211 H/
828 M). Ketika syair itu dikumanda ng - kan oleh Mukhariq di hadapan al-Mak- mun, sang khalifah pun menyahut, \"Wahai Mukhariq, ambil kekhalifahanku dan berikan teman ini kepadaku.\"
(sumber: Republika edisi : Kamis, 12 Juli 2012 hal. 01 Oleh Makmun Nawawi)
More aboutPesona Akhlak Rasul

Taman Surga

Diposkan oleh tujuh oprek

Dalam satu perjalanan, Nabi SAW mengingatkan para sahabat agar berhenti atau mampir apa- bila melewati taman surga (riyadh al- jannah). Mereka bertanya, \"Apakah taman surga itu?\" Jawab Nabi, \"Majalis al-Dzikr\" (majelis-majelis zikir). (HR Tirmidzi dan Ahmad dari Anas ibn Malik).
Majelis zikir itu, dalam riwayat lain, disebut majelis ilmu. Riwayat lainnya menyebut masjid. Masjid atau majelis zikir disebut taman surga dalam kisah di atas, dapat dipahami dalam beberapa makna.
Pertama, bagi kaum beriman, masjid tak ubahnya taman, yaitu tempat yang indah dan nyaman. Kita harus rajin ke masjid agar kita memperoleh ke- segaran dan kebugaran, tidak saja fisik, tetapi terutama mental dan spiritual.
Kedua, Nabi SAW wanti-wanti agar dalam melakukan perjalanan (al-safar), kaum beriman tidak lupa berhenti dan mampir di masjid, untuk shalat dan zikir kepada Allah. Pada masa kita se - karang, peringatan Nabi ini sungguh penting, karena banyak orang dalam perjalanan hanya berhenti di rest area untuk makan dan minum. Sebagian besar mereka lupa untuk berhenti di taman surga atau masjid.
Ketiga, orang yang rajin ke masjid dan berzikir, sesungguhnya ia sedang membangun rumah dan tamannya sendiri yang indah di surga. Maka, kaum beriman diseru agar banyak ber - zikir. \"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama)
Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
(QS al-Ahzab [33]: 41).
Zikir itu bermakna mengingat Allah atau menyadari kehadiran-Nya. Orang menyadari kehadiran Allah akan terbe- bas dari penyakit kehampaan spiritual yang membuatnya terjaga dan terpeli- hara dari dosa dan maksiat.
Di sinilah makna paling penting dari zikir, sampai-sampai imam al-Qusyairi dalam Risalat al-Qusyairiyahmenyebut- nya sebagai jalan paling prinsip menuju Tuhan. Bahkan, bagi Qusyairi, tak bisa dibayangkan seseorang bisa sampai (ma`rifah) kepada Allah tanpa zikir se- cara terus-menerus (wa la yashil ahadun ila Allah illa bi dawam al-dzikr).
Zikir sebagai proses mempertinggi kesadaran tentang kehadiran Allah, bisa dilakukan secara lisan (al-dzikr bi al-Lisan) dan secara rohani atau spi - ritual (al-dzikr bi al-Qalb). Para sufi, termasuk Qusyairi, memahami zikir se - cara lisan hanya sebagai alat untuk menggugah agar mampu berzikir lahir dan batin sepanjang waktu.
Kemampuan zikir lahir dan batin tanpa putus ini (istidamat al-dzikr) dise- but oleh Nabi SAW sebagai perbuatan paling utama, yaitu tatkala seorang hamba terus berzikir sampai mengem- buskan napasnya yang terakhir, se - dang kan lidahnya basah (komat-kamit)
ka rena zikir dan mengingat Allah. (HR Thabrani dari Mu`adz ibn Jabal).
Kesadaran spiritual (zikir) itu, menurut Ghazali, berpusat di hati (kalbu). Bagi Ghazali, hati menjadi alat untuk mengenal Allah (al-`alim bi Allah), yang mendekatkan diri (al-mu- taqarrib), yang bekerja (al-`amil), yang berjalan (al-sa`i), dan yang menyak- sikan rahasia kebesaran Allah melalui terbukanya tirai kegaiban (al-mukasyif bi-ma `inda Allah). Wallahu a`lam.
(sumber: Republika edisi : Selasa, 10 Juli 2012 hal. 01 Oleh Dr A Ilyas Ismail)
More aboutTaman Surga

Tujuh Indikator Bahagia

Diposkan oleh tujuh oprek

Ibnu Abbas RA adalah salah seorang sahabat Rasullulah SAW yang dijuluki Turjumaanul Qur'an (ahli menerjemahkan Alquran). Dia sangat telaten menjaga dan melayani Rasulullah SAW. Dia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW. Pada usia sembilan tahun Ibnu Abbas telah hafal Alquran dan telah menjadi imam di masjid.
Sejak kecil Ibnu Abbas sudah menunjukkan kecerdasan dan semangatnya menuntut ilmu. Beragam gelar diperoleh. Seperti faqih al-ashr (ahli fikih di masanya), imam al-mufassirin (penghulu ahli tafsir), dan al-bahr (lautan ilmu).
Suatu hari, ia ditanya seorang tabiin (generasi sesudah para sahabat) mengenai kebahagian dunia. Ibnu Abbas menjawab ada tujuh indikator kebahagian dunia. Pertama, hati yang selalu bersyukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman." (QS al-Mu'minun [23]: 1).
Kedua, pasangan hidup yang saleh. Pasangan hidup yang saleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesalehan. Sebaliknya, istri yang salehah akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya.
Ketiga, anak yang saleh. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam mati akan terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR Muslim).
Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan seorang anak muda yang selalu menggendong ibunya yang uzur. "Ya Rasulullah, apakah aku termasuk berbakti pada orang tua?" Rasulullah SAW menjawab, "Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak saleh, berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalas olehmu."
Keempat, lingkungan yang kondusif untuk iman kita. (QS at-taubah [9]: 119). Rasulullah SAW juga mengajarkan agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering memberikan nasehati kita. Pentingnya bergaul dengan orang saleh, dapat kembali membangkitkan semangat keimanan.
Kelima, harta yang halal. Dalam Islam kualitas harta adalah yang paling terpenting, bukan kuantitas harta. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam Bab Shadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus, namun sayang makanan, minuman, dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan."
Keenam, semangat memahami agama. Semakin belajar, semakin cinta kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-NYa. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya.
Ketujuh, umur yang berkah. Semakin tua semakin saleh, yang setiap detiknya diisi amal ibadah. Orang yang mengisi hidupnya untuk kebahagian dunia semata, hari tuanya akan sibuk berangan-angan. Hatinya kecewa bila tidak mampu menikmati yang diangankannya. Orang yang mengisi umurnya dengan amal ibadah, semakin tua semakin rindu bertemu Allah SWT.
(sumber: Republika edisi Rabu, 16 Mei 2012 hal. 01 Oleh Erick Yusuf)
More aboutTujuh Indikator Bahagia

Menebar Janji

Diposkan oleh tujuh oprek

Menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta, calon gubernur dan wakil gubernur (cagub-cawagub) biasa menebar janji guna meraih simpati. Janji seakan menjadi satu-satunya cara efektif untuk memengaruhi masyarakat yang ditemui. Seakan butuh janji-janji itu, rakyat pun akan memilihnya. Namun, ketika cagub-cawagub terpilih acap kali janji itu terlupakan.
Akhirnya, janji tinggal janji.
Janji yang ditebar, antara lain, memberantas korupsi, menegakkan hukum dengan seadil-adilnya, pendidikan gratis, sembako murah, kesehatan gratis, penyediaan ribuan lapangan kerja, penanggulangan banjir, dan mengurai kemacetan. Dalam Islam, janji merupakan bagian dari identitas keimanan. Setiap orang beriman dipe rintahkan untuk memenuhi janji yang dibuatnya. (QS al-Maidah [5]: 1).

Dikemukakan bahwa indikator utama orang mukmin yang akan mendapatkan kebahagiaan adalah mereka yang suka memenuhi amanah dan janjijanjinya. “Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang beriman, dan orangorang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.“ (QS al-Mukminun [23]: 1 dan 8).

Sebaliknya, orang yang selalu mengingkari janjinya dapat dikategorikan sebagai munafik. Ciri-ciri orang munafik ada tiga macam, sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. “Jika berbicara selalu berdusta, jika berjanji selalu ingkar, dan jika dipercaya selalu berkhianat.“ (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain, Abdullah bin Umar berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Ada empat dosa sifat yang jika seseorang memperlihatkan semua cirinya, dia sepenuhnya orang munafik. Jika dia punya salah satu ciri, dia dianggap memiliki unsur-unsur seorang munafik. Ciri-ciri itu adalah berkhianat, berdusta, ingkar janji, dan memaki lawan jika ada perbedaan pendapat.“ (HR Bukhari).

Janji adalah utang (al-wa'du dainun). Orang yang dibebani utang akan merasa hilang kebebasan yang dimilikinya. Dia akan selalu dibelenggu sebuah tuntutan untuk melunasi utang tersebut. Rasulullah SAW mengingatkan, “Hati-hati dengan utang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) di siang hari.“ (HR Ahmad).

Karena itu, masyarakat berharap agar kampanye yang digelar tidak dijadikan sebagai media untuk mengumbar janji yang mendorong kesombongan dan membanggakan kelompoknya yang paling benar dan baik sehingga layak untuk dipilih.

Jika ini yang terjadi, akan lahir para pemimpin yang hanya pandai berjanji dan berbohong. Sedangkan dia sendiri sama sekali tidak berpikir, apalagi berbuat untuk kepentingan bangsa dan masyarakat yang dipimpinnya.

Berhati-hatilah dalam berjanji, sebab setiap ucapan (janji) yang diucapkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan manusia dan di hadapan Allah SWT kelak di hari kemudian. “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.“ (QS Qaf [50] : 18). Wallahu a'lam.
(sumber: Republika edisi : Jumat, 29 Juni 2012 hal. 01 Oleh Imam Nur Suharno)
More aboutMenebar Janji

Pendidikan Kesabaran

Diposkan oleh tujuh oprek

Orang yang tidak merugi adalah orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat kebenaran, dan saling berwasiat kesabaran.
(QS al-Ashr [103]: 1-3). Sabar merupakan akhlak terpuji yang harus dimiliki setiap Muslim.
Pepatah Arab menyatakan, “Orang yang bersabar akan memperoleh kemenangan.“ Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, (karena) Allah itu senantiasa bersama orang-orang yang sabar.“ (QS al-Baqarah [2]: 158).

Dari segi bahasa, shabr artinya menahan dan mengendalikan diri agar tidak “dijajah“ hawa nafsu dan emosi.
Dalam kitab Tahdzib Madarik al-Salikan, Ibnu al-Qayyim mendefinisikan sabar sebagai menahan diri untuk tidak melampiaskan nafsu angkara murka, mengendalikan lidah untuk tidak berkeluh kesah, dan mengontrol anggota tubuh untuk tidak bertindak anarki. Orang yang sabar tidak hanya bersikap lapang dada saat menghadapi kesulitan dan musibah, tetapi juga teguh pendirian (istiqamah) dalam memperjuangkan kebenaran, dan selalu dinamis dan optimistis dalam meraih masa depan yang lebih baik dan bermakna.

Sabar bisa diklasifikasikan menjadi lima, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, sabar dalam menerima dan menghadapi musibah, sabar dalam menuntut dan mengembangkan ilmu, serta sabar dalam bekerja dan berkarya. Kelima bentuk kesabaran ini berkaitan erat dengan ketahanan mental spiritual, sehingga kesabaran itu selalu menuntut ketahanan jiwa dan kekayaan mental spiritual yang tangguh.

Dalam menuntut ilmu dan berkarya, misalnya, kesabaran sangat diperlukan karena kehidupan ini selalu berproses, memerlukan waktu, dan tidak instan.
Ketika “melamar“ menjadi murid Khidir, Nabi Musa AS diminta memenuhi satu syarat saja, yaitu sabar.

Dalam banyak hal, ketidaksabaran merupakan awal dari penyimpangan dan kemerosotan moral. Korupsi, misalnya, merupakan wujud dari ketidaksabaran seseorang dalam meraih kekayaan secara halal dan legal. Kemacetan jalan raya sering kali disebabkan oleh ketidaksabaran pengguna jalan untuk disiplin dan antre.

Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar itu sebagian dari iman. Nilai sabar itu identik kepala pada tubuh manusia. Jika kesabaran telah tiada, berarti iman dalam diri manusia itu telah sirna.

Sejarah menunjukkan bahwa kemenangan dakwah Islam, antara lain, terwujud karena kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian, musibah, dan permusuhan. Tentara Muslim dalam perang Badar yang hanya berjumlah 313 orang berhasil mengalahkan tentara kafir Quraisy yang berjumlah 1.000 orang karena kuatnya kesabaran mereka. (QS al-Baqarah [2]: 249).

Pendidikan kesabaran juga merupakan salah satu cara untuk memperoleh petunjuk Allah SWT, karena orang yang sabar hanya mau mendengar suara hati nurani, bukan mengikuti hawa nafsu dan emosi. (QS as-Sajdah [32]: 24). Sabar berarti kita harus ikhlas, menerima dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Wallahu a'lam.
(sumber: Republika edisi : Kamis, 28 Juni 2012 hal. 01 Oleh Muhbib Abdul Wahab)
More aboutPendidikan Kesabaran

Ghibah

Diposkan oleh tujuh oprek

Berghibahlah, bila eng kau merindukan jalan pintas menuju neraka, membuka pintu-pintu siksa yang pedih, dan menarilah di atas penderitaan orang lain.
Juga, tertawalah di atas derai air matanya. Jadilah binatang buas yang melahap bangkaibangkai manusia. Tahukah kalian, ghibah itu lebih hina dari perzinaan atau pelacuran. Imam Ghazali dan Imam Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kamu melakukan pergunjingan, karena pergunjingan itu lebih berat dari perzinaan. Karena, jika seseorang yang berzina kemudian bertobat maka Allah mengampuninya. Sedangkan penggunjing tidak akan diampuni Allah, sebelum orang yang digunjingkan itu memaafkannya.“
Alangkah beratnya siksa yang ditanggung oleh tukang gunjing (mughtab), si tukang penyebar ghibah. Betapapun dia bertobat kepada Allah, pintu pengampunan tidak akan terbuka, kecuali dia berlari dan bersungguh-sungguh meminta maaf kepada orang yang digunjingkannya itu.

Tidakkah kita takut pada siksa Allah? Bagaimana bila orang yang digunjingkan itu telah meninggal dunia? Kepada siapakah engkau akan memohonkan maaf. Padahal, kunci surga hanya terbuka bila ada pemaafan darinya.

Imam Gazali meriwayatkan penggalan nasihat Allah kepada Nabiyullah Musa AS. “Barang siapa yang mati dalam keadaan bertobat dari gunjingan, maka ia adalah orang terakhir yang memasuki surga.
Dan barang siapa yang mati dalam keadaan bergunjing, maka ia adalah orang pertama yang memasuki neraka.“ (Mukhtasar Ihya Ulumudin,1990: 241).

Saat ini, ghibah telah menjadi komoditas dan tontonan yang mampu mengangkat rating tayangan televisi. Acara gosip yang dipandu para presenter cantik dengan pakaian setengah telanjang, menjadi primadona pengelola televisi. Kehidupan rumah tangga orang yang sangat pribadi pun dibongkar. Dan, kita pun merasa asyik menonton gosip tersebut, bahkan turut melakukan estafet gosip ke tetangga sebelah. Maka, berantailah penyebaran gosip.

Dalam dunia politik, ghibah merupakan senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan harga diri dari reputasi lawan politiknya yang secara populer dikenal dengan istilah character assasination (pembunuhan karakter).

Betapa besarnya dosa dan konsekuensi moral yang disebabkan oleh ulah lidah, menggosip dan mencela atau mencaci maki orang lain. Inilah ajaran moral kemanusiaan pa ling fundamental yang menghiasi akhlak seorang Muslim.
Betapapun rajin kita beribadah, di hadapan Allah ibadahnya tidak memiliki manfaat sama sekali, selama lidah kita menggosip dan menyakiti orang lain.

Sahabat Muadz bin Jabbal RA pernah bertanya pada Rasulullah SAW. “Apakah kita akan diminta pertanggungjawaban karena apa yang kita ucapkan, wahai Rasulullah?“ Beliau menjawab, “Hai Ibnu Jabbal, tidaklah manusia-manusia itu akan ditelungkupkan dengan hidungnya terlebih dahulu di neraka, melainkan karena apa yang dilakukan oleh lidahnya.“ (HR Hakim). Semoga Allah melindungi dan memelihara kita dari berghibah.
Berghibahlah, bila eng kau merindukan jalan pintas menuju neraka, membuka pintu-pintu siksa yang pedih, dan menarilah di atas penderitaan orang lain.
Juga, tertawalah di atas derai air matanya. Jadilah binatang buas yang melahap bangkaibangkai manusia. Tahukah kalian, ghibah itu lebih hina dari perzinaan atau pelacuran. Imam Ghazali dan Imam Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kamu melakukan pergunjingan, karena pergunjingan itu lebih berat dari perzinaan. Karena, jika seseorang yang berzina kemudian bertobat maka Allah mengampuninya. Sedangkan penggunjing tidak akan diampuni Allah, sebelum orang yang digunjingkan itu memaafkannya.“
Alangkah beratnya siksa yang ditanggung oleh tukang gunjing (mughtab), si tukang penyebar ghibah. Betapapun dia bertobat kepada Allah, pintu pengampunan tidak akan terbuka, kecuali dia berlari dan bersungguh-sungguh meminta maaf kepada orang yang digunjingkannya itu.

Tidakkah kita takut pada siksa Allah? Bagaimana bila orang yang digunjingkan itu telah meninggal dunia? Kepada siapakah engkau akan memohonkan maaf. Padahal, kunci surga hanya terbuka bila ada pemaafan darinya.

Imam Gazali meriwayatkan penggalan nasihat Allah kepada Nabiyullah Musa AS. “Barang siapa yang mati dalam keadaan bertobat dari gunjingan, maka ia adalah orang terakhir yang memasuki surga.
Dan barang siapa yang mati dalam keadaan bergunjing, maka ia adalah orang pertama yang memasuki neraka.“ (Mukhtasar Ihya Ulumudin,1990: 241).

Saat ini, ghibah telah menjadi komoditas dan tontonan yang mampu mengangkat rating tayangan televisi. Acara gosip yang dipandu para presenter cantik dengan pakaian setengah telanjang, menjadi primadona pengelola televisi. Kehidupan rumah tangga orang yang sangat pribadi pun dibongkar. Dan, kita pun merasa asyik menonton gosip tersebut, bahkan turut melakukan estafet gosip ke tetangga sebelah. Maka, berantailah penyebaran gosip.

Dalam dunia politik, ghibah merupakan senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan harga diri dari reputasi lawan politiknya yang secara populer dikenal dengan istilah character assasination (pembunuhan karakter).

Betapa besarnya dosa dan konsekuensi moral yang disebabkan oleh ulah lidah, menggosip dan mencela atau mencaci maki orang lain. Inilah ajaran moral kemanusiaan pa ling fundamental yang menghiasi akhlak seorang Muslim.
Betapapun rajin kita beribadah, di hadapan Allah ibadahnya tidak memiliki manfaat sama sekali, selama lidah kita menggosip dan menyakiti orang lain.

Sahabat Muadz bin Jabbal RA pernah bertanya pada Rasulullah SAW. “Apakah kita akan diminta pertanggungjawaban karena apa yang kita ucapkan, wahai Rasulullah?“ Beliau menjawab, “Hai Ibnu Jabbal, tidaklah manusia-manusia itu akan ditelungkupkan dengan hidungnya terlebih dahulu di neraka, melainkan karena apa yang dilakukan oleh lidahnya.“ (HR Hakim). Semoga Allah melindungi dan memelihara kita dari berghibah.
(sumber: Republika edisi : Rabu, 27 Juni 2012 hal. 01 Oleh Ustaz Toto Tasmara)
More aboutGhibah

Tanda Amal Diterima

Diposkan oleh tujuh oprek

Diriwayatkan dari budak nya Ummu Salamah, dia mendengar Ummu Salamah menyampaikan hadis bahwa Rasulullah SAW berdoa seusai shalat Subuh. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.“
(HR al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman, juz II, hlm 284).

Hadis ini menunjukkan betapa urgennya amal yang diterima. Amal yang diterima menjadi rukun kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Imam Syafii berkata, “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak siasia.“ (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).

Di antara syarat pertama diterimanya amal adalah Islam (QS Ali Imran: 85). Kekufuran merupakan sebab utama ditolaknya amal (QS Ali Imran: 9091). “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.“ (QS al-Furqan: 3).

Kedua, ikhlas (QS al-Kahfi: 110). Rasulullah SAW meriwayatkan hadis Qudsi, “Aku (Allah) tidak membutuhkan kepada sekutu. Barang siapa beramal dan mempersekutukan-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.“ (HR Muslim).

Ketiga, mengikuti sunah Nabi SAW. “Barang siapa yang beramal tidak mengikuti perintah kami, maka akan ditolak.“

(HR Muslim). Keempat, bertakwa kepada Allah. “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.“ (QS al-Maidah: 27).

Kelima, berbakti kepada kedua orang tua. (QS al-Ahqaf: 15-16). Keenam, memperhatikan waktu beramal. Abu Bakar berwasiat kepada Umar, “Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah memiliki amalan pada malam hari yang tidak menerima amalan siang, dan amalan siang yang tidak menerima amalan malam, dan Allah tidak menerima amalan sunah sampai menunaikan yang fardu.“

Ketujuh, berbuat amal sa leh. “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.“ (QS Fathir: 10). Kedelapan, tidak merasa bangga atas amalnya.

Sedangkan, tanda-tanda amal diterima itu ada lima macam. Pertama, doanya dikabulkan Allah. Hadis tentang tiga orang yang terjebak dalam gua dan mereka masing-masing berdoa dengan berwasilah kepada amal ibadahnya yang lalu.
Doa mereka terkabul karena amalan mereka diterima Allah.

Kedua, banyak manusia yang mencintai dan menghargai orang tersebut. “Sesungguhnya Allah kalau mencintai si Fulan, memerintah Jibril AS untuk menyeru penduduk langit, `Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah SWT mencintai si Fulan, maka cintailah dia.' Penduduk langit pun mencintai Fulan dan di bumi semua orang menerimanya.“

Ketiga, mendapat taufik Ilahi untuk melakukan amal saleh berikutnya. Keempat, kontinu dalam beramal. Segala sesuatu yang dilakukan karena Allah, akan langgeng dan terus, sedangkan kalau karena manusia, amal akan terputus. “Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS asy-Syura: 2). Kelima, rela akan hukum Allah dan menerima qadha dan takdir-Nya.
(QS al-Bayyinah: 8).
(sumber: Republika edisi : Selasa, 26 Juni 2012 hal. 01 Oleh Prof KH Achmad Satori Ismail)
More aboutTanda Amal Diterima