Suatu hari, Rasulullah SAW memegang pundak Abdullah bin Umar. Beliau SAW kemudian berpesan, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara."

Rupanya putra Umar bin Khattab itu sangat terkesan dengan ucapan singkat Rasulullah hingga dia berkata, "Jaga nikmat hidupmu sebelum ajal menjemputmu." Demikian pula seharusnya kita. Bukankah setiap capaian dunia hanyalah halte demi halte untuk sampai pada terminal akhir kehidupan, yaitu kematian?

Pada hakikatnya, manusia memang hanya musafir. Hingga Ibnul Qayyim, berkata, "Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara."
Sifat pengembara dalam diri manusia merupakan sebuah keniscayaan kehidupan sebagaimana diungkapkan Imam Syafii, "Bahkan, seekor singa tidak akan pandai memangsa jika tidak hidup dihamparan bumi yang luas dan anak panah tak akan menemui sasarannya bila tak pernah dilepaskan dari busurnya."

Sayangnya, sifat pengembaraan manusia sering membuatnya alpa dalam pengembaraannya di padang sabana kehidupan. Manusia menjadi rakus dalam berburu rezeki.

Manusia berpikir, rezeki adalah uang. Padahal, sebuah cinta dari seorang istri pun adalah rezeki. Bukankah Rasulullah SAW menyebut cinta Khadijah dengan berkata, "Aku telah diberi rezeki dengan cintanya."

Sering kali manusia tak pandai bersyukur atas karunia rezeki yang melimpah. Padahal, Allah berjanji untuk memberi lebih jika seorang hamba pandai bersyukur. Ibnul Qayyim berkata, "Andai seorang hamba mendapat rezeki dunia dan seluruh isinya kemudian dia berkata `alhamdulillah', niscaya pemberian Allah padanya dengan ucapan hamdallah itu akan lebih besar dari seluruh dunia dan seisinya. Mengapa? Sebab, segala kenikmatan dunia akan berakhir, sementara pahala atas ucapan tahmid itu kekal hingga hari akhir."

Manusia memang sering mengalami krisis keyakinan soal rezeki. Krisis itulah yang mengantarkan manusia menjadi serakah, korup, manipulatif, dan merampas hak-hak orang lain. Wallahu a'lam.

(sumber:Republika edisi Sabtu, 2 Januari 2016 Hal. 12 OLEH INAYATULLAH HASYIM)

Post a Comment

 
Top